Trump Akui Perang Iran Ikut Picu Kekalahan Republik di Pemilu Sela AS
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui perang melawan Iran turut berkontribusi terhadap kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela pada Selasa (3/11/2026).
Pengakuan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara melalui telepon dengan The Wall Street Journal pada Selasa malam waktu setempat.
“Iran adalah salah satu faktornya,” kata Trump dalam wawancara tersebut.
Meski demikian, Trump menegaskan tidak menyesali keputusannya melancarkan perang terhadap Iran pada awal 2026.
Ia bahkan menyatakan akan mengambil keputusan yang sama jika menghadapi situasi serupa.
“Saya tidak memikirkannya. Saya melakukan hal yang benar. Saya akan melakukannya lagi,” ujarnya.
Perang Iran diketahui menekan tingkat popularitas pemerintahan Trump dan sulit diakhiri meskipun telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Konflik tersebut juga dilaporkan menjadi sumber masalah bagi pemerintahan Trump.
Salah satu dampaknya adalah lonjakan harga bensin dan diesel di AS yang memicu ketidakpuasan masyarakat menjelang pemilu sela.
Baca Juga: Media Asing Soroti Kasus Dugaan Penyadapan yang Seret Listyo Sigit
Trump Bantah Kekalahan Republik Jadi Penilaian terhadap Kepemimpinannya
Meskipun mengakui perang Iran menjadi salah satu faktor kekalahan Partai Republik, Trump menolak menganggap hasil pemilu sela sebagai bentuk penolakan masyarakat terhadap kepemimpinannya.
Partai Republik mengalami kekalahan di sejumlah negara bagian yang selama ini menjadi basis kuat mereka, seperti Kansas, South Carolina, dan Texas.
Di tengah penurunan popularitasnya di berbagai negara bagian, Trump beralasan bahwa hasil pemilu tersebut tidak bisa dianggap sebagai penilaian langsung terhadap kinerjanya sebagai presiden.
Hal itu karena namanya tidak tercantum dalam surat suara pemilu sela.
“Itu hanya sebuah momen, dan nama saya tidak ada di surat suara. Masalah terbesarnya adalah saya tidak ikut dalam pemilihan,” kata Trump.
Trump juga membantah anggapan bahwa kekalahan Partai Republik disebabkan oleh kekecewaan pemilih terhadap kondisi ekonomi atau dugaan korupsi di dalam pemerintahannya.
Selain itu, Trump mengaku tidak memiliki rencana untuk melakukan perubahan personel di pemerintahannya.
Baca Juga: Listyo Ditangkap, 5 Skandal Penyadapan yang Gegerkan Dunia
Ia juga menyatakan tetap mendukung Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang memimpin upaya perang AS di Iran.
“Saya pikir dia sebenarnya luar biasa,” kata Trump mengenai Hegseth.
Trump turut menilai sejumlah kandidat Partai Republik yang kalah dalam pemilu sela memiliki kelemahan sehingga gagal mendapatkan dukungan pemilih.
“Beberapa dari mereka memiliki banyak kelemahan dan jelas tidak dapat diterima oleh para pemilih,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dirinya telah berusaha membantu para kandidat tersebut semaksimal mungkin.
Sejumlah kandidat yang kalah merupakan tokoh yang sebelumnya mendapat dukungan Trump, termasuk Senator Partai Republik Darline Graham dari South Carolina dan Jaksa Agung Texas Ken Paxton.
Paxton kalah dalam perebutan kursi Senat AS di Texas dari kandidat Partai Demokrat James Talarico.
“Saya berusaha membantu mereka,” kata Trump.
Mengenai Graham dan Paxton, ia mengatakan, “Darline bekerja sangat keras, mereka bekerja keras. Namun, keduanya tidak berhasil.”
Trump Siap Gunakan Hak Veto jika Berselisih dengan Demokrat
Di tengah kekalahan Partai Republik, Trump mengatakan tidak mempersoalkan keabsahan hasil pemilu sela.
Ia juga menyatakan terbuka untuk bekerja sama dengan Partai Demokrat, meskipun memperingatkan akan menggunakan hak veto jika diperlukan.
“Saya pikir kami akan bekerja sama dengan Partai Demokrat dan akan berhubungan dengan sangat baik. Jika tidak, kami akan bersikap sangat keras terhadap mereka, dan mereka juga akan bersikap sangat keras terhadap kami,” ujarnya.
Namun, Trump tidak menjawab ketika ditanya mengenai anggota Partai Demokrat yang menurutnya berpotensi diajak bekerja sama.
Pernyataan tersebut menunjukkan Trump menyadari kemungkinan menghadapi perbedaan politik yang lebih tajam jika Partai Demokrat berhasil menguasai Kongres.
Meski demikian, ia menganggap kekalahan dalam pemilu sebagai bagian dari dinamika politik.
“Memang terkadang begitulah hasilnya,” kata Trump.
