Trump Tak Takut Dimakzulkan Demokrat Usai Kalah Midterm
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menegaskan dirinya tidak merasa khawatir menghadapi kemungkinan pemakzulan yang dapat diinisiasi Partai Demokrat. Hal ini menyusul keberhasilan partai oposisi tersebut merebut kendali Senat dan DPR AS dalam pemilihan sela (midterm elections) 2026.
Trump justru memperingatkan bahwa upaya pemakzulan tanpa dasar yang jelas berpotensi menjadi bumerang bagi Demokrat dan merugikan posisi politik mereka sendiri. Pernyataan itu disampaikan saat Trump berbicara di Gedung Putih pada Rabu (4/11/2026), dalam kesempatan pertamanya menanggapi hasil pemilu sela.
“Tidak, tidak, tidak, sama sekali tidak,” kata Trump ketika ditanya mengenai kekhawatirannya terhadap kemungkinan Demokrat memulai proses pemakzulan.
Ia menilai langkah tersebut tidak memiliki landasan yang kuat dan justru dapat merusak citra serta posisi politik Partai Demokrat.
Baca Juga : RI-Turki Bidik Perdagangan Ratusan Triliun Jajaki Perjanjian PTA
“Saya pikir itu akan menghancurkan Partai Demokrat jika mereka melakukannya, karena pemakzulan itu tidak memiliki alasan. Untuk apa? Karena berhasil memimpin negara?” ujarnya.
Trump juga menegaskan bahwa dirinya tidak melihat adanya alasan yang dapat digunakan Demokrat untuk memulai proses pemakzulan terhadap dirinya.
Trump Buka Peluang Kerja Sama dengan Demokrat
Di tengah ketegangan politik setelah pemilu sela, Trump menyatakan masih membuka kemungkinan untuk bekerja sama dengan Partai Demokrat di Kongres. Namun, ia memberikan syarat agar partai tersebut tidak mengambil langkah yang dianggap menghambat jalannya pemerintahan.
“Saya mungkin akan bisa bekerja sama dengan Demokrat, kecuali jika mereka ingin bersikap destruktif. Namun, saya memiliki kekuatan veto,” kata Trump, dikutip Anadolu.
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Partai Republik mengalami kekalahan dalam pemilu sela AS 2026. Berdasarkan laporan NPR, Partai Demokrat berhasil mengambil alih mayoritas di dua lembaga legislatif Amerika Serikat, yakni Senat dan DPR, yang sebelumnya berada di bawah kendali Partai Republik.
Baca Juga : Istana Klaim Penyadapan Prabowo oleh Listyo sebagai Makar
Demokrat dijadwalkan mulai menjalankan kendali atas kedua kamar Kongres tersebut pada Januari 2027. Perubahan komposisi kekuasaan ini menjadi tantangan bagi Trump, terutama dalam menjalankan agenda legislasi pemerintahannya selama sisa masa jabatan.
Dengan menguasai mayoritas Kongres, Demokrat memiliki ruang lebih besar untuk menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintahan Trump. Salah satunya melalui peningkatan penyelidikan terhadap berbagai kebijakan maupun tindakan yang dilakukan pemerintahannya.
