Demokrat Kuasai Kongres AS, China Berpeluang Manfaatkan Posisi Trump yang Melemah?
Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) pada Selasa (3/11/2026) berpotensi mengubah arah hubungan Washington dengan Beijing selama dua tahun terakhir pemerintahan Presiden Donald Trump.
Demokrat berhasil menguasai Kongres AS sehingga memiliki ruang lebih besar untuk menghambat sejumlah kebijakan Trump, termasuk kebijakan perdagangan dan pendekatannya terhadap Taiwan.
Kondisi tersebut dinilai dapat membuka peluang bagi China untuk memperkuat posisinya di tengah persaingan perdagangan dan geopolitik dengan AS.
Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa perubahan kekuatan politik di Washington juga dapat memunculkan risiko baru dalam hubungan kedua negara.
Baca Juga: Demokrat Kuasai DPR dan Senat AS, Trump Terancam Diselidiki
Kebijakan Tarif Trump dan Isu Taiwan Jadi Sorotan
Salah satu dampak langsung dari perubahan kekuatan di Kongres AS adalah kemungkinan terbatasnya ruang Trump menggunakan tarif sebagai alat tawar dalam negosiasi dengan China.
Selama ini, Trump mengandalkan bea masuk dalam perang dagang dengan Beijing sebelum kedua negara mencapai kesepakatan gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada Januari 2027.
Dekan Institut Studi Internasional Universitas Fudan, Shanghai, Wu Xinbo, menilai pembatasan dari Kongres dapat melemahkan posisi Trump dalam perundingan dengan China.
Meski demikian, Partai Demokrat juga menghadapi dilema karena kebijakan tarif mendapat dukungan dari sejumlah kelompok yang selama ini menjadi basis pendukung mereka.
Peneliti senior S. Rajaratnam School of International Studies, Drew Thompson, mengatakan Kongres kemungkinan akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menggagalkan kebijakan Trump selama dua tahun ke depan.
Namun, menurut Thompson, tarif juga populer di kalangan serikat pekerja, pekerja sektor industri atau blue-collar, serta usaha kecil yang secara historis mendukung Partai Demokrat.
Peneliti Brookings Institution Patricia Kim memperkirakan Kongres tidak akan mendukung kebijakan yang terlalu agresif terhadap China jika berisiko membebani masyarakat AS.
“Kongres kemungkinan tidak akan terlalu mendukung langkah-langkah yang secara tajam meningkatkan tekanan terhadap China, jika langkah tersebut berisiko menaikkan biaya bagi konsumen dan pelaku bisnis Amerika, atau meningkatkan kemungkinan terjadinya konflik,” ujarnya, dikutip dari AFP, Kamis (5/11/2026).
Selain perdagangan, Taiwan juga diperkirakan menjadi salah satu isu utama dalam hubungan AS dan China.
Washington merupakan pemasok senjata penting bagi Taiwan, yang diklaim Beijing sebagai bagian dari wilayah China.
Namun, Trump sebelumnya membuka kemungkinan menjadikan penjualan senjata ke Taiwan sebagai alat tawar dalam negosiasi dengan Beijing.
Pemerintahannya bahkan telah menunda paket penjualan senjata senilai 14 miliar dollar AS selama berbulan-bulan.
Kepala Ekonom Capital Economics Neil Shearing memperingatkan bahwa China dapat memanfaatkan dua tahun terakhir masa jabatan Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap Taiwan.
Hal itu bisa terjadi jika Beijing menilai Washington sedang teralihkan atau Trump bersedia membatasi keterlibatan AS.
Wu menilai Kongres yang dikuasai Demokrat dapat menekan Trump agar kembali melanjutkan penjualan senjata ke Taiwan.
“Jika itu terjadi, hal tersebut juga akan merusak stabilitas hubungan AS-China,” katanya.
Sebaliknya, Direktur SOAS China Institute Steve Tsang menilai dukungan Kongres yang semakin kuat terhadap Taiwan juga dapat membuat Beijing lebih berhati-hati.
Namun, Thompson mengingatkan bahwa Trump tetap memiliki kewenangan untuk memveto undang-undang terkait penjualan senjata atau tidak menjalankannya.
Baca Juga: Pemimpin Dunia Soroti Kemenangan Demokrat dalam Midterm AS 2026
China Diperkirakan Tetap Andalkan Komunikasi dengan Trump
Meski posisi politik Trump melemah setelah pemilu sela, para analis memperkirakan China tidak akan mengubah pendekatannya secara drastis terhadap Washington.
Patricia Kim mengatakan Beijing kemungkinan tetap mengandalkan komunikasi langsung antara Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk mengelola hubungan kedua negara.
“Beijing kemungkinan akan terus melakukan pendekatan terhadapnya melalui interaksi tingkat tinggi antar-pemimpin dengan Xi Jinping, karena menganggap cara ini sebagai langkah yang paling minim risiko dalam mengelola hubungan dengan Washington,” katanya.
Menurut Kim, kedua negara juga tampaknya tidak mengharapkan perubahan besar dalam hubungan bilateral meskipun terjadi pergeseran kekuatan politik di Kongres AS.
Sementara itu, Tsang menilai posisi Trump yang semakin mendekati akhir masa jabatan dapat dimanfaatkan Beijing untuk meningkatkan tekanan terhadap AS.
Meski demikian, China diperkirakan tetap berhati-hati agar langkah tersebut tidak mendorong Trump mengambil keputusan yang semakin sulit diprediksi.
Dengan demikian, kemenangan Demokrat di Kongres dapat memberi Beijing peluang untuk memanfaatkan melemahnya posisi politik Trump.
Namun, peluang tersebut tetap dibatasi oleh kewenangan presiden AS dalam menentukan kebijakan luar negeri dan hubungan langsung antara Trump dengan Xi Jinping.
