Panglima Inggris Peringatkan Publik agar Siap Hadapi Perang dengan Rusia
Panglima Staf Pertahanan Inggris, Marsekal Udara Sir Richard Knighton, mengeluarkan pernyataan mengejutkan dengan menyatakan bahwa peluang terjadinya konfrontasi militer langsung antara pasukan Rusia dan Inggris di wilayah kedaulatan Inggris bukan lagi nol persen.
Pernyataan yang disampaikan dalam diskusi di Royal United Services Institute ini langsung memicu reaksi keras dari Moskow yang menyebut klaim tersebut sebagai “omong kosong”.
Knighton menyerukan kepada publik Inggris agar bersiap untuk terlibat dalam upaya pertahanan nasional, termasuk mempersiapkan “anak-anak lelaki dan perempuan” untuk melayani negara dan melakukan pengorbanan jika diperlukan.
Meski mengakui probabilitas konflik tetap kecil, ia menegaskan bahwa risiko tersebut adalah nyata dan memerlukan kesiapan militer serta ketahanan masyarakat yang lebih besar di tengah ketegangan geopolitik di Eropa.
Baca Juga: Hubungan China-Inggris Memanas Usai Kritik Starmer – Economix
“Lebih banyak orang harus siap bertempur demi negaranya,” tegas Knighton, seraya menambahkan bahwa respons terhadap ancaman modern harus melampaui sekadar penguatan angkatan bersenjata dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Peringatan Knighton senada dengan pernyataan Panglima Pertahanan Prancis, Fabien Mandon, bulan lalu yang juga memperingatkan warga Prancis untuk bersiap menghadapi risiko kehilangan anak-anak dalam potensi perang besar melawan Rusia.
Tren ini muncul bersamaan dengan usulan beberapa negara anggota NATO untuk mengirim pasukan multinasional ke Ukraina guna menjaga gencatan senjata.
Kremlin dengan tegas membantah klaim Knighton, menegaskan bahwa Rusia tidak memiliki rencana untuk menyerang negara-negara anggota NATO. Pihak Rusia menuding para politisi Barat sengaja memicu sentimen ketakutan untuk membenarkan pembengkakan anggaran militer.
Moskow juga memperingatkan bahwa pengiriman pasukan NATO ke Ukraina akan dianggap sebagai partisipasi langsung dalam konflik dan berisiko memicu konfrontasi terbuka yang lebih luas.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, mengecam retorika para pemimpin Eropa Barat yang dianggapnya sedang mempersiapkan benua itu untuk perang terbuka, bukan sekadar perang hibrida.
Rusia menyebut langkah militerisasi agresif ini sebagai tindakan ceroboh yang merusak upaya perdamaian dan dapat menyeret seluruh blok NATO ke dalam konflik yang menghancurkan.
Baca Juga: AS-Jepang vs Rusia-China: Ketegangan Militer Meningkat di Asia Timur – Economix
