Donald Trump Kembali Diseret Isu Pemilu AS 2028
Dengan sisa tiga tahun masa jabatan keduanya, Presiden Donald Trump sudah membuat sebagian warga Amerika mulai memikirkan pemilihan presiden 2028. Hal ini terungkap dalam jajak pendapat terbaru CNN-SSRS.
Survei yang dilakukan pada 4-7 Desember itu menunjukkan, sebanyak 22 persen warga dewasa Amerika Serikat mengaku telah memikirkan pemilu 2028 secara serius, sementara 28 persen lainnya mengaku sempat memikirkannya meski tidak mendalam.
Namun demikian, sekitar dua pertiga responden belum memiliki sosok tertentu yang ingin mereka lihat maju sebagai calon presiden. Hanya sepertiga responden yang sudah menyebutkan nama kandidat pilihan mereka.
Di kubu Partai Republik, Wakil Presiden JD Vance menjadi nama teratas dengan dukungan 11 persen responden. Disusul oleh Menteri Luar Negeri, Marco Rubio dengan 2 persen, serta Gubernur Florida, Ron DeSantis dengan 1 persen.
Baca Juga : Universal Studios Dikabarkan Masuk Taman Hiburan di Arab Saudi
Menariknya, masih ada 1 persen responden yang menyebut nama Donald Trump, meskipun secara konstitusional tidak dapat mencalonkan diri kembali karena dibatasi oleh Amandemen ke-22.
Sementara itu, dari pihak oposisi, Gubernur California, Gavin Newsom memimpin dengan 6 persen dukungan. Mantan Wakil Presiden, Kamala Harris berada di posisi berikutnya dengan 3 persen, diikuti Anggota DPR New York, Alexandria Ocasio-Cortez sebesar 2 persen, dan mantan Menteri Transportasi, Pete Buttigieg dengan 1 persen.
Selain itu, 1 persen responden juga menyebut mantan Presiden Barack Obama, yang juga tidak memenuhi syarat untuk mencalonkan diri kembali, serta mantan Ibu Negara Michelle Obama dan Senator Arizona Mark Kelly.
Secara keseluruhan, sebanyak 16 persen responden menyebut kandidat dari Partai Republik atau kalangan konservatif, sementara 14 persen menyebut kandidat dari Partai Demokrat atau liberal. Hanya satu responden yang menyebut nama dari kedua kubu sekaligus, yakni Mitt Romney atau Mark Kelly.
Responden yang belum memiliki kandidat tertentu kemudian diminta menyampaikan sifat, karakter, atau pandangan paling penting yang mereka harapkan dari presiden berikutnya.
Jawaban yang muncul beragam dan bersifat terbuka. Kejujuran menjadi jawaban paling banyak, dengan 12 persen responden berharap presiden mendatang bersikap jujur dan tidak berbohong. Sementara itu, 9 persen lainnya menginginkan sosok pemimpin yang berbelas kasih, empatik, dan peduli pada rakyat.
Survei ini juga mencatat isu-isu utama yang dianggap penting oleh responden. Masalah keterjangkauan dan biaya hidup menempati posisi teratas dengan 6 persen penyebutan. Isu “America First” atau kepentingan Amerika Serikat di atas urusan luar negeri disebut oleh 3 persen responden. Adapun isu layanan kesehatan, kebijakan luar negeri, dan pengeluaran pemerintah masing-masing disebut oleh 2 persen responden.
Jauh sebelum kembali menduduki Gedung Putih, Trump sempat mengisyaratkan keinginannya untuk mencalonkan diri lagi pada 2028, bahkan menjual topi bertuliskan “Trump 2028”. Beberapa orang di lingkaran terdekatnya juga sempat menyatakan bahwa Trump masih bisa mencari celah untuk menghindari ketentuan Amandemen ke-22.
Pada Oktober lalu, Trump juga menolak menutup kemungkinan untuk maju kembali sebagai presiden, dan mengaku “sangat ingin melakukannya” dan mengklaim memiliki tingkat dukungan tertinggi sepanjang kariernya. Pernyataan itu muncul tak lama setelah sekutunya, Steve Bannon, menyebut adanya “rencana” agar Trump bisa kembali terpilih pada 2028.
Baca Juga : Suku Bunga Jepang Tertinggi dalam 30 Tahun, Begini Respons Investor
Namun, dua hari kemudian Trump menarik ucapannya dan mengakui bahwa konstitusi secara tegas melarangnya mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga. Meski demikian, Bannon tetap bersikukuh dan bahkan menyatakan bahwa Amandemen ke-22 masih bisa ditembus, dengan mengutip pendapat seorang pengacara konstitusi ternama.
Dalam beberapa waktu terakhir, Trump kembali memicu spekulasi. Dalam pesta Natal Gedung Putih, ia menyebut hanya memiliki “sedikit lebih dari tiga tahun” masa jabatan tersisa. Pernyataan itu muncul tak lama setelah ia mengunggah gambar buatan AI di Truth Social yang menampilkan dirinya memegang papan bertuliskan “Trump 2028, Yes!”.
Meski begitu, Kepala Staf Gedung Putih, Susie Wiles menegaskan bahwa Trump tidak akan mencalonkan diri lagi. Dalam wawancara dengan Vanity Fair, Wiles menyatakan bahwa Trump memahami sepenuhnya larangan Amandemen ke-22. “Namun, dia benar-benar menikmati situasinya,” ujar Wiles, seraya menambahkan bahwa Trump tahu sikapnya itu “membuat banyak orang gusar.”
