Februari Ini, Prabowo Mulai Pembangunan 6 Proyek Baru Senilai Rp101,5 T
Pemerintahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tengah menyiapkan enam proyek hilirisasi baru yang dijadwalkan mulai dibangun pada Februari 2026. Proyek-proyek tersebut diperkirakan akan menyerap investasi sekitar US$ 6 miliar atau setara Rp 101 triliun, serta menarik arus modal asing dalam jumlah besar.
Presiden Prabowo menyampaikan bahwa dalam beberapa pekan ke depan sedikitnya enam proyek hilirisasi akan memasuki tahap konstruksi, dengan potensi bertambah hingga 11 proyek. Ia menegaskan bahwa percepatan hilirisasi menjadi salah satu fokus utama pemerintah untuk mendorong industrialisasi nasional.
Prabowo meminta jajaran menteri di kabinetnya menyiapkan sumber daya manusia dan manajemen yang handal guna memastikan proyek-proyek hilirisasi tersebut dapat dikelola secara optimal. Menurutnya, proses industrialisasi idealnya memerlukan waktu panjang, namun pemerintah berupaya mempercepat realisasinya.
Baca Juga : Trump Targetkan “Senjata Rahasia” di Venezuela, Apa Itu?
Pembahasan mengenai proyek hilirisasi tersebut sebelumnya telah dilakukan dalam rapat terbatas yang digelar di Hambalang, Bogor, pada 11 Januari 2026. Rapat itu membahas rencana peletakan batu pertama enam proyek hilirisasi baru dengan nilai investasi US$ 6 miliar pada awal Februari 2026.
Rapat tersebut dihadiri oleh sejumlah menteri terkait, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala Danantara, Rosan Roeslani.
6 Proyek Strategis Hilirisasi
Sebelumnya, Rosan mengungkapkan bahwa enam proyek strategis hilirisasi tersebut akan dibangun secara bertahap mulai awal 2026. Proyek-proyek itu mencakup sektor mineral, energi terbarukan, hingga pangan.
- Pengembangan industri smelter aluminium berbasis alumina di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan nilai investasi US$ 2,4 miliar.
- Pembangunan fasilitas smelter grade alumina dari bauksit di Mempawah, Kalimantan Barat, senilai US$ 890 juta.
- Fasilitas produksi bioavtur di Cilacap, Jawa Tengah, dengan nilai investasi US$ 1,1 miliar.
- Proyek lainnya adalah pengembangan fasilitas pengolahan kelapa terintegrasi di Morowali, Sulawesi Tengah, yang saat ini telah berjalan, dengan nilai investasi US$ 100 juta.
- Pemerintah juga merencanakan pengembangan fasilitas bioetanol senilai US$ 80 juta.
- Pembangunan 5 fasilitas budidaya unggas yang tersebar di sejumlah lokasi dari total 12 titik yang direncanakan.
Sebagai bagian dari agenda besar hilirisasi nasional, pemerintah menargetkan pengembangan 18 proyek hilirisasi yang dikelola oleh Danantara. Proyek-proyek tersebut mencakup pembangunan pabrik pengolahan komoditas mineral, kimia, hingga hasil perkebunan.
Di sisi lain, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa sedikitnya enam proyek hilirisasi akan mulai diresmikan pembangunannya dalam waktu dekat. Jumlah tersebut akan bertambah secara bertahap hingga mencapai 18 proyek pada Februari dan Maret 2026.
Baca Juga : Maraknya Rokok Ilegal, Purbaya Akan Terapkan Tarif Cukai?
Selain sektor mineral dan energi, proyek hilirisasi tersebut juga mencakup pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) serta proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai substitusi Liquified Petroleum Gas (LPG).

[…] Februari Ini, Prabowo Mulai Pembangunan 6 Proyek Baru Senilai Rp101,5 T […]