Bos Danantara Beberkan Rencana Investasi Proyek 2026, Nilainya Rp235 T!
Lembaga pengelola kekayaan negara Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia, bersiap mengalokasikan dana investasi hingga US$14 miliar atau sekitar Rp235,48 triliun sepanjang 2026. Dana tersebut akan diarahkan ke berbagai proyek strategis nasional, mencakup sektor energi, pangan, industri, hingga hilirisasi sumber daya.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menyampaikan bahwa sumber pendanaan investasi tersebut berasal dari setoran dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta rencana penerbitan obligasi kedua yang dijadwalkan dalam beberapa bulan ke depan.
Ia menjelaskan bahwa pada tahun sebelumnya Danantara telah mengamankan komitmen investasi sekitar US$8 miliar, namun total dana yang harus disalurkan pada 2026 meningkat menjadi US$14 miliar.
Baca Juga : Diduga Bocorkan Informasi ke CIA, Jenderal Top China Dipecat!
Sementara itu, laporan Stockbit Sekuritas menyebutkan bahwa alokasi investasi Danantara pada 2026 akan menyasar sejumlah proyek strategis, baik melalui skema investasi langsung maupun lewat pasar publik. Sejumlah proyek bahkan telah memasuki tahap awal pelaksanaan.
Salah satu agenda utama Danantara adalah pengembangan proyek waste-to-energy (WTE). Proyek ini dijadwalkan memasuki tahap pengumuman pemenang lelang pada pertengahan Februari 2026, sebelum dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pada Maret 2026.
Tahap pertama proyek WTE akan difokuskan di Bogor, Bekasi, Denpasar, dan Yogyakarta, dengan estimasi kebutuhan pendanaan berkisar antara Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun. Selain itu, Danantara juga menyiapkan lelang tahap kedua untuk enam kota lainnya.
Di sektor industri dan pangan, Danantara menyiapkan dana sekitar US$6 miliar atau setara Rp101 triliun untuk pembentukan BUMN tekstil baru. Langkah ini diproyeksikan sebagai upaya mitigasi terhadap tekanan tarif global yang berdampak pada industri tekstil nasional. Selain itu, Danantara turut mengalokasikan pendanaan sebesar US$1,2 miliar atau sekitar Rp20 triliun untuk pembangunan 12 pabrik peternakan ayam terintegrasi, yang ditujukan untuk menekan fluktuasi harga day old chick (DOC).
Pada sektor properti dan layanan haji, Danantara diketahui telah menyepakati akuisisi Hotel Novotel serta lahan seluas 4,4 hektare di Thakher City, Mekkah, guna pengembangan kawasan terpadu Kampung Haji.
Nilai pembelian lahan diperkirakan mencapai US$1 miliar, sementara akuisisi hotel diestimasikan sebesar US$500 juta. Proyek pengembangan kawasan tersebut juga direncanakan memperoleh tambahan pendanaan sebesar US$800 juta atau sekitar Rp13,4 triliun pada kuartal IV/2026.
Baca Juga : Kunjungan di 3 Negara, Prabowo Bawa Investasi Rp 90 Triliun
Di bidang hilirisasi, Danantara menyiapkan sejumlah proyek strategis dengan nilai total sekitar US$6 miliar. Proyek-proyek tersebut meliputi pembangunan smelter aluminium, fasilitas smelter grade alumina, produksi bioavtur, hingga pengolahan kelapa terintegrasi.
Seiring dengan penyaluran investasi, Danantara juga tengah menjalankan agenda restrukturisasi BUMN secara menyeluruh. Jumlah entitas BUMN ditargetkan dipangkas dari sekitar 1.000 perusahaan menjadi 200 perusahaan. Salah satu fokus utama restrukturisasi tersebut adalah penyelesaian merger BUMN Karya yang ditargetkan rampung pada kuartal I/2026.
Laporan Stockbit menilai bahwa dimulainya realisasi investasi Danantara berpotensi memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional mulai 2026.
Prospek tersebut sejalan dengan langkah Bank Dunia yang pada pertengahan Januari 2026 menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk periode 2026–2027 masing-masing sebesar 0,2 poin persentase menjadi 5% dan 5,2%.
Menurut Stockbit, peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut salah satunya diperkirakan akan ditopang oleh akselerasi investasi yang didorong oleh peran aktif pemerintah melalui Danantara.

[…] Bos Danantara Beberkan Rencana Investasi Proyek 2026, Nilainya Rp235 T! […]