Fakta-Fakta Negosiasi AS-Iran, Konflik Makin Dekat?
Mediator dari Oman akhirnya menyampaikan hasil pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang digelar di Jenewa, Swiss. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan pengerahan kekuatan militer AS yang memicu kekhawatiran konflik terbuka.
Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, menjelaskan perkembangan terbaru dari dialog yang melibatkan utusan Presiden Donald Trump dan delegasi Teheran. Ia memastikan perundingan yang berlangsung sejak pagi hingga sore berjalan intens.
Baca Juga : AS-Iran Diambang Perang, China dan Rusia Turun Tangan
“Kami telah menyelesaikan hari ini setelah adanya kemajuan signifikan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran,” ujar Albusaidi dalam unggahannya di media sosial X setelah pertemuan berakhir pada Kamis (26/2/2026) waktu setempat dikutip Reuters.
Menurutnya, pembahasan kali ini menghasilkan pola komunikasi yang lebih terstruktur dibanding pertemuan sebelumnya. Kedua pihak disebut saling menyampaikan gagasan konstruktif untuk memecah kebuntuan isu nuklir yang telah berlangsung lama.
“Kedua belah pihak telah bertukar ide-ide yang kreatif dan positif selama sesi pembicaraan berlangsung,” tambah Albusaidi saat menggambarkan suasana di dalam ruang perundingan.
Albusaidi belum memastikan apakah seluruh hambatan menuju kesepakatan final telah terselesaikan. Namun, ia menegaskan proses negosiasi akan berlanjut ke tahap teknis pada pekan depan di Wina.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, juga mengakui adanya kemajuan sekaligus perbedaan dalam sejumlah isu penting yang masih dinegosiasikan.
“Kami mencapai kesepakatan mengenai beberapa isu, dan terdapat perbedaan mengenai beberapa isu lainnya. Diputuskan bahwa putaran negosiasi berikutnya akan berlangsung segera, dalam waktu kurang dari satu minggu,” kata Araqchi menjelaskan hasil pertemuan tersebut.
Araqchi menegaskan Iran tetap konsisten menuntut pencabutan sanksi ekonomi dari AS sebagai bagian utama kesepakatan.
“Pihak Iran telah menyatakan dengan jelas tuntutan kami untuk pencabutan sanksi-sanksi AS,” tutur Araqchi mengenai substansi pembicaraan di Jenewa.
Di sisi lain, Presiden Trump terus memberikan tekanan dengan menetapkan tenggat waktu singkat bagi Iran untuk mencapai kesepakatan baru.
Baca Juga : Perang Hampir Pecah, Banyak Negara Minta Warganya Pergi dari Iran
“Iran harus membuat kesepakatan dalam 10 hingga 15 hari ke depan, jika tidak, hal-hal yang sangat buruk akan terjadi,” tegas Trump dalam pernyataannya pada 19 Februari lalu.
Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, berupaya meredakan ketegangan dengan menegaskan bahwa program nuklir Iran tidak bertujuan militer, merujuk pada fatwa pemimpin tertinggi negara tersebut.
“Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah melarang senjata pemusnah massal, yang secara jelas berarti Teheran tidak akan mengembangkan senjata nuklir,” ungkap Pezeshkian pada Kamis kemarin.

[…] Baca Juga: Berikut Ini Fakta Negosiasi AS-Iran, Konflik Makin Dekat? […]