Perang Hampir Pecah, Banyak Negara Minta Warganya Keluar dari Iran
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat seiring memanasnya hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Situasi tersebut mendorong sejumlah negara memperluas peringatan perjalanan serta menarik warga dan keluarga pejabat diplomatik mereka dari kawasan yang dinilai semakin tidak stabil.
Melansir The Guardian, Pemerintah Australia pada Rabu (25/2/2026) meminta anggota keluarga diplomatnya di Israel dan Lebanon untuk segera meninggalkan wilayah tersebut.
Kementerian Luar Negeri Australia juga menawarkan keberangkatan sukarela bagi keluarga diplomat di Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Yordania, menyusul apa yang disebut sebagai “situasi keamanan yang memburuk di kawasan”.
Langkah serupa turut dilakukan sejumlah negara lain. Siprus, Jerman, India, Polandia, Serbia, dan Swedia meminta warga negaranya meninggalkan Iran. Sementara itu, Singapura mengimbau warganya untuk menunda seluruh perjalanan ke negara tersebut.
Pekan lalu, Brasil juga merekomendasikan warganya keluar dari Iran setelah sebelumnya mengeluarkan peringatan serupa untuk Lebanon.
Baca Juga: Terkait Serang Iran, Pejabat AS Paparkan Rencana Strategis ke Kongres
Peringatan Global dan Dampaknya ke Penerbangan
Peningkatan kewaspadaan ini terjadi di tengah pengerahan besar-besaran militer AS ke Timur Tengah serta menjelang pembicaraan penting terkait program nuklir Iran. Pemerintahan Presiden Donald Trump memperingatkan akan adanya konsekuensi serius apabila Teheran tidak memberikan konsesi signifikan dalam negosiasi.
Presiden AS dan sejumlah pejabatnya menuding Iran tengah membangun kembali program senjata nuklir. Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan, “Prinsipnya sangat sederhana: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.”
Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan, “Saya akan mengatakan bahwa desakan Iran untuk tidak membahas rudal balistik adalah masalah yang sangat besar.”
Di sisi lain, pemerintah Iran berulang kali membantah tudingan tersebut. Teheran menilai Presiden Trump menyebarkan “kebohongan besar” dan menyatakan harapan agar perundingan dapat menghasilkan kesepakatan baru.
Meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi konflik militer juga berdampak pada sektor penerbangan internasional. Sejumlah maskapai menangguhkan rute ke dan melalui kawasan Timur Tengah.
Maskapai Belanda KLM mengumumkan penghentian sementara penerbangan rute Amsterdam–Tel Aviv mulai 1 Maret. Induk perusahaannya, Air France KLM, menyebut jalur tersebut tidak lagi “layak secara komersial maupun operasional”.
Langkah kolektif berbagai negara dan pelaku industri ini mencerminkan meningkatnya kewaspadaan global terhadap eskalasi konflik AS-Iran yang dinilai berpotensi mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: MBG Pakai Dana Pendidikan Disebut Langkah Cerdas oleh DPR
