SBY Beberkan Situasi Perang AS-Israel vs Iran yang Sudah Membesar
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan kekhawatirannya atas eskalasi konflik di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Pandangan itu ia sampaikan dalam dialog bersama Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Demokrat, Rizki Aulia Rahman Natakusumah, yang ditayangkan di kanal YouTube resmi SBY.
“Iya itu juga yang saya khawatirkan kalau peperangan yang ada di Timur Tengah ini meluas, membesar, tentu ada implikasinya kepada kehidupan not only di kawasan Timur Tengah, tapi juga di banyak tempat di dunia ini,” ujarnya.
SBY menilai perkembangan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tanda-tanda konflik kian melebar.
Baca Juga : Eropa Beri Sinyal Dukungan Militer AS Lawan Iran
“Mungkin sekarang pun sudah mulai meluas, melebar gitu. Semua tahu perseteruan yang tajam ini kan antara Israel dan Iran, AS dengan Iran, dan kalau sengit peperangan di antara tiga negara itu bisa dimengerti. Karena akar konfliknya dalam sekali,” kata SBY.
Ia menjelaskan, pada awalnya sejumlah negara Teluk cenderung mengambil posisi netral. Namun situasi berubah setelah muncul aksi balasan dari Iran.
“Kemudian sebagaimana yang dijanjikan oleh Iran, kalau negaranya diserang oleh AS dan Israel, jangan salahkan nanti Iran kalau melakukan pembalasan dan semua gelar pasukan AS di Timur Tengah itu menjadi sasaran. Ternyata itu terjadi betul. Sehingga ini yang tadinya boleh dikatakan tidak ikut-ikutan begitu, dipaksa untuk melibatkan diri,” ujar SBY.
Menurutnya, kondisi saat ini sudah mengarah pada perang regional karena melibatkan lebih banyak negara. Jika sebelumnya konflik dipersepsikan sebagai AS dan Israel melawan Iran, kini sejumlah negara Teluk ikut terseret, seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Oman.
“Semua itu tentu dia juga menegakkan kedaulatannya, melakukan pembalasan, retaliation. Ini menjadi dangerous,” kata SBY.
SBY yang juga Chairman of The Yudhoyono Institute turut menyinggung serangan terhadap pangkalan militer Inggris di Siprus. Ia mempertanyakan implikasinya terhadap Pasal 5 NATO.
“Jika ada anggota NATO diserang oleh negara tertentu, maka wajib hukumnya negara anggota NATO bareng-bareng Inggris memerangi negara yang menyerang posisi Inggris itu. Ini kan menjadi lebih berbahaya lagi. Misalnya ternyata bukan hanya negara-negara di kawasan Teluk itu yang berhadapan dengan sengit berperang, bertempur, tetapi kalau juga pihak di luar Timur Tengah masuk,” ujar SBY.
Ia kemudian menyoroti potensi keterlibatan kekuatan besar lain seperti Rusia, China, dan Korea Utara apabila konflik semakin meluas.
“Ini menurut saya very, very dangerous. Mudah-mudahan tidak sampai ke situ. Karena kalau itu terjadi maka Timur Tengah menjadi fresh point yang bisa mengarah ke peperangan yang lebih besar,” kata SBY.
SBY menyimpulkan bahwa perang yang bermula dari serangan terhadap Iran kini telah berkembang menjadi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, dengan dampak militer dan ekonomi yang signifikan.
“Itu dari sisi militer. Belum kait mengaitnya dengan perekonomian yang sudah mengalami disrupsi di sana sini totalitasnya menjadi…,” ujar SBY.
Ia menilai persoalan yang dihadapi saat ini tergolong besar dengan harapan yang kian menipis. Menurutnya, yang paling mendesak adalah munculnya kesadaran bersama untuk melakukan deeskalasi dan menahan diri agar situasi tidak semakin meluas, membesar, dan memburuk. Namun, ia mengakui bahwa realitas di lapangan menunjukkan konflik telah terlanjur meluas dan semakin meningkat.
Baca Juga : Ini Strategi Intelijen AS-Israel Ungkap Lokasi Khamenei Sebelum Tewas
