Respon Mentan Amran soal Saudi Berhenti Impor Unggas & Telur RI
Otoritas Makanan dan Obat Arab Saudi atau Saudi Food and Drug Authority (SFDA) resmi memberlakukan larangan total impor unggas dan telur dari 40 negara, termasuk Indonesia. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah pencegahan guna melindungi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat standar keamanan pangan di pasar domestik Saudi.
Meski demikian, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menilai larangan tersebut tidak sepenuhnya menjadi hambatan bagi Indonesia. Ia justru melihat peluang di balik kebijakan itu, khususnya untuk mendorong ekspor produk olahan bernilai tambah.
“Iya, (larangan impor) itu untuk unggas, tapi olahan tidak. Ya kita olah, justru nilainya lebih tinggi. Itulah kalau bisnis,” ujar Amran usai melepas ekspor produk unggas dan turunannya di Lapangan Parkir Kementan, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Menurut Amran, pembatasan terhadap unggas hidup sejalan dengan agenda hilirisasi yang didorong Presiden Prabowo Subianto. Dengan mengolah bahan mentah menjadi produk jadi, nilai jual komoditas bisa meningkat signifikan.
“Ini (produk daging ayam olahan). Nilainya ini. Katakanlah nilainya ini dua kali lipat (dari unggas atau ayam hidup). Kalau ayam saya ekspor, harganya katakanlah Rp30.000 per kilogram (kg). Kalau ini barang jadi, dua kali lipat. Pilih mana? Justru kita bersyukur, karena Arab itu melarang untuk unggas. Ini (produk daging ayam olahan) saya kirim. Senang Rp60.000 atau Rp30.000? Rp60.000 (per kemasan),” jelas dia.
Baca Juga: Strategi Antisipasi Krisis Minyak RI Dampak Perang Dibeberkan Airlangga
Ia menegaskan, hilirisasi bertujuan meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.
“Kan diolah (bukan unggas). Justru itulah tujuan perintah Bapak Presiden, kita hilirisasi. Hilirisasi adalah kita olah bahan baku menjadi bahan jadi. Ini naik 100 persen nilainya. Dan ini tujuannya,” ucap dia.
sementara itu, Direktur Charoen Pokphand Jaya Farm, Jusi Jusran, membenarkan bahwa Arab Saudi memang belum membuka impor unggas maupun unggas hidup dari Indonesia.
“Ya itu untuk unggas, pemerintah Arab Saudi dari dahulu sampai dengan hari ini memang tidak membuka pemasukan atau impor unggas (maupun) unggas hidup dari Indonesia,” tutur Jusi.
Namun, ia menekankan bahwa kondisi tersebut bukan akhir dari peluang ekspor.
“Tetapi tidak mengirimkan karkas ayam beku atau unggas hidup ke Arab Saudi itu istilahnya bukan akhir dunia ya. Karena seperti yang disampaikan Pak Menteri Pertanian (Amran Sulaiman), mengirimkan produk olahan, ready to eat (siap dimakan) atau ready to serve (siap dihidangkan), itu lebih besar nilainya,” jelas dia.
Jusi mengungkapkan proses pembukaan akses pasar melalui kerja sama government to government (G2G) telah dimulai sejak tiga tahun lalu. Kini, Indonesia mulai mendapatkan persetujuan untuk mengirim produk yang telah melalui proses pemanasan atau heat treatment.
“Proses pengurusan perizinan atau kerjasama G2G ini sudah dimulai sejak 3 tahun lalu, dan sekarang kita mulai bisa mendapatkan persetujuan untuk mengirim produk yang sudah jadi, atau ready to eat, ready to serve atau produk yang sudah melalui pemanasan, heat treatment. Jadi seperti produk olahan,” kata dia.
Baca Juga: Serangan AS bersama Israel di Iran Tewaskan Warga China
Persaingan Ketat dengan Negara Pemasok Utama
Meski peluang ekspor terbuka, Jusi mengakui tantangan masuk pasar Saudi cukup berat. Perusahaannya sendiri hingga kini belum mengirim produk ke Arab Saudi karena masih fokus pada pasar Uni Emirat Arab (UAE) dan negara Teluk lainnya.
“Charoen Pokphand belum mengirimkan produk ke Arab Saudi karena target market kami UAE, dan negara-negara lain di teluk. Meskipun saat ini kami ada tambahan negara baru yang sedang kami kerjakan, tapi belum bisa diumumkan. Insya Allah ada titik terang dalam beberapa waktu mendatang,” ujar Jusi.
Menurut dia, ekspor produk pangan menghadapi berbagai persyaratan teknis dari negara tujuan, ditambah persaingan harga yang ketat dari negara besar seperti Brasil, Amerika Serikat, dan Thailand.
“Karena ekspor produk tidak mudah, karena negara penerima akan meminta banyak persyaratan teknis untuk mempersulit pemasukan. Kenapa? Karena yang kita hadapi ada produk dari Brasil, produk dari Amerika, produk dari Thailand. Mereka sangat murah, sangat kompetitif, sangat menarik. Jadi tantangannya sangat berat,” ungkap Jusi.
Ia menambahkan, selama ini Arab Saudi memang lebih banyak mengandalkan pasokan dari negara-negara tersebut.
“Kalau Saudi, karena selama ini mungkin mereka menganggap Indonesia belum dibutuhkan, karena mereka telah banyak menerima pemasukan produk dari negara seperti Brasil, Amerika, dan Thailand,” imbuh dia.
Baca Juga: Eropa Beri Sinyal Dukung Militer AS Lawan Iran, Teheran Babak Belur?
Meski demikian, pihaknya bersama pemerintah terus berupaya agar produk Indonesia dapat menembus pasar Saudi, tidak hanya untuk kebutuhan jamaah haji, tetapi juga sektor komersial seperti hotel, restoran, dan katering.
“Semoga ini segera terealisasi dan kita bisa menjual produk tidak hanya untuk jamaah haji tetapi untuk bisnis ya, untuk kebutuhan hotel, restoran, catering, di luar jamaah haji. Karena itu akan sangat baik bagi produk kita, bagi citra negara juga. Karena itu, kita akan bisa setara dengan Amerika, Brasil, dan Thailand yang terkenal untuk ekspor produk pangan,” lanjut dia.
Ia juga menyebut telah bertemu dengan BPOM guna membahas persyaratan teknis ekspor ke Arab Saudi.
“Saya bertemu dengan BPOM, karena untuk produk Arab Saudi dihandle oleh BPOM 2 bulan lalu. Mudah-mudahan untuk periode akhir 2026 ini ada signal yang baik untuk produk Charoen Pokphand,” pungkas dia.

[…] Respon Mentan Amran soal Saudi Berhenti Impor Unggas & Telur RI […]