Untuk Lumpuhkan Amerika, Iran Simpan Senjata Ampuh Ini
Ketegangan antara Iran dengan AS-Israel tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga berpotensi merambah ke ruang digital.
Sejumlah analis keamanan siber menilai Teheran tengah menyiapkan serangan siber sebagai bentuk pembalasan setelah kapasitas militernya disebut melemah akibat operasi terbaru Israel.
Perusahaan keamanan siber asal Amerika Serikat, Anomali, menyebut Iran kemungkinan besar akan mengerahkan wiper malware untuk menyerang sistem digital lawannya. Perangkat lunak berbahaya ini dikenal mampu menghapus data secara permanen sekaligus merusak sistem komputer yang menjadi target.
Dalam analisisnya, Anomali menyatakan Iran telah memobilisasi kelompok peretas APT42 dan APT33 yang memiliki keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta Kementerian Intelijen Iran (MOIS), yang juga dikenal dengan nama MuddyWater.
Perusahaan keamanan lain, SentinelOne, memperkirakan sasaran serangan tersebut dapat mencakup jaringan pertahanan, pemerintahan, hingga intelijen milik Israel dan Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga: Konflik Israek-AS Lawan Iran Disebut Bisa Picu Perang Dunia 3
Potensi Serangan Wiper Malware
Mengutip EuroNews, taktik yang dinilai paling berisiko adalah penggunaan wiper malware, yakni program jahat yang dirancang untuk menghapus data secara permanen dan merusak sistem komputer.
Jika digunakan secara luas, serangan ini berpotensi melumpuhkan layanan vital serta infrastruktur penting yang bergantung pada sistem digital.
Selain itu, Iran juga diperkirakan dapat melancarkan serangan Distributed Denial of Service (DDoS) untuk menjatuhkan layanan daring. Metode ini dilakukan dengan membanjiri server dengan lalu lintas data hingga layanan tidak dapat diakses.
Iran juga disebut berpotensi memperkuat kampanye disinformasi untuk mempengaruhi opini publik global. Narasi yang disebarkan bisa berupa tudingan kejahatan perang Israel hingga klaim kerugian militer yang dilebih-lebihkan.
Meski demikian, sejumlah analis, termasuk dari Sophos, menilai kelompok peretas Iran terkadang melebih-lebihkan kemampuannya. Namun mereka tetap dianggap sebagai aktor siber yang cukup mumpuni dengan rekam jejak menyerang infrastruktur penting dan sektor keuangan.
Di sisi lain, Israel juga memiliki kemampuan pertahanan siber yang kuat. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memiliki unit siber elite bernama Unit 8200 yang disebut-sebut pernah terlibat dalam operasi Stuxnet, virus yang merusak fasilitas pengayaan uranium Iran di Natanz pada dekade lalu.
Baca Juga: Apa Alasan RI Siap Impor BBM dari Singapura?
Pada tahun lalu, otoritas Israel juga menuduh kelompok pro-Iran mengirim pesan SMS palsu yang menyamar sebagai Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk memperingatkan adanya serangan terhadap tempat perlindungan bom.
Iran pun pernah menuduh Israel memanfaatkan aplikasi pesan populer WhatsApp untuk memata-matai warganya selama konflik yang berlangsung selama 12 hari tahun lalu. Otoritas Iran bahkan sempat meminta masyarakat menghapus aplikasi tersebut dari ponsel mereka, meski tudingan itu dibantah oleh perusahaan induk WhatsApp, Meta.

[…] Untuk Lumpuhkan Amerika, Iran Simpan Senjata Ampuh Ini […]