Trump Murka saat Nonton Piala Dunia, Pilih Serang Iran Lagi
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan memerintahkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer Iran di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Menurut laporan CNBC International, Minggu (19/7/2026), keputusan tersebut diambil setelah Iran menarik diri dari perjanjian damai darurat yang tertuang dalam memorandum kesepahaman Islamabad.
Pemerintahan Trump disebut mengarahkan operasi militer tersebut untuk melemahkan kemampuan pertahanan Iran sekaligus menekan aktivitas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Saat ditanya wartawan mengenai keputusan Iran yang tidak lagi mematuhi kesepakatan damai, Trump menunjukkan sikap tegas.
Baca Juga: Final Piala Dunia Dihadiri Trump, Ikut Serahkan Trofi
“Saya sama sekali tidak peduli,” kata Trump saat menanggapi pertanyaan mengenai langkah Iran.
Eskalasi konflik itu juga berdampak pada meningkatnya korban di pihak militer AS.
Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mengonfirmasi seorang personelnya tewas dalam pertempuran terbaru di Irak akibat serangan drone yang dikaitkan dengan Iran.
Dengan tambahan korban tersebut, jumlah personel militer AS yang tewas sejak konflik pecah pada Februari lalu dilaporkan mencapai 17 orang.
Trump mengisyaratkan bahwa insiden tersebut menjadi salah satu alasan di balik langkah balasan yang diambil Washington terhadap Teheran.
“Sangat menyedihkan, ini adalah hal yang sangat menyedihkan. Kita benci melihat hal itu terjadi. Itu demi berbakti kepada negara kita,” ujar Trump saat menanggapi kematian anggota militer AS.
Meski jumlah korban terus bertambah dan konflik memasuki fase yang semakin serius, Trump tetap menilai operasi militer AS berjalan sesuai tujuan.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut memengaruhi pasar energi global.
Baca Juga: Intelijen Membantah, Trump Tuding China Campuri Pemillu
Kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Dalam sepekan terakhir, harga minyak dilaporkan melonjak sekitar 16 persen. Minyak mentah Brent untuk pengiriman September naik 4,6 persen menjadi 88,10 dollar AS per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 4,5 persen ke level 82,49 dollar AS per barel.
Kenaikan harga tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat konflik yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah.
