Jika Perang Dunia Meletus, RI Terancam Krisis Energi
Ancaman krisis energi disebut masih membayangi Indonesia jika konflik global terus meningkat atau bahkan berkembang menjadi perang dunia.
Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira yang menilai ketahanan energi nasional masih rentan karena tingginya ketergantungan terhadap impor minyak.
Bhima mengatakan, kondisi tersebut membuat Indonesia sangat sensitif terhadap gangguan pasokan global.
Baca Juga: Pesawat Militer Tetangga RI Meluncur ke Timur Tengah, Mungkinkah Ikut Perang?
Ketika jalur distribusi energi terganggu atau produksi minyak dunia tersendat akibat konflik geopolitik, dampaknya dapat langsung terasa pada ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
“Cadangan energi Indonesia rentan. Itu kenapa krisis minyak bisa picu stok BBM langka,” kata Bhima kepada CNBC Indonesia, Kamis (5/3/2026).
Menurut dia, solusi dengan menambah cadangan energi hingga tiga bulan belum tentu cukup untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Pasalnya, selama Indonesia masih bergantung pada impor minyak, risiko terhadap fluktuasi harga dan pasokan global tetap tinggi.
“Akar masalahnya kan kita impor minyak dan rentan fluktuasi harga. Opsinya justru percepatan elektrifikasi di sistem transportasi dan transisi energi,” kata Bhima.
Ia menilai pemerintah perlu mempercepat elektrifikasi di sektor transportasi sebagai salah satu langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada BBM.
Salah satu caranya adalah dengan memperluas penggunaan transportasi publik berbasis listrik di berbagai daerah.
Menurut Bhima, jika transportasi umum listrik tersedia dengan harga terjangkau dan layanan yang nyaman, masyarakat akan lebih mudah beralih dari kendaraan pribadi berbahan bakar minyak.
“Yang penting transport publiknya murah dan nyaman, orang bergeser juga,” tambah dia.
Selain itu, percepatan pengembangan energi terbarukan juga dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Indonesia, kata Bhima, memiliki potensi besar dari berbagai sumber energi bersih yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor.
Ia mencontohkan Jepang yang memiliki cadangan minyak strategis dalam jumlah besar, namun tetap memperluas penggunaan energi terbarukan secara signifikan.
“Khawatir kalau kita tetap fokus ke impor minyak dan bbm, ketahanan energi tetap rapuh. Jepang itu rumah tangga nya pakai panel surya dengan total kapasitas 100 GW. Jadi Jepang memang punya oil reserves 254 hari, tapi energi terbarukan juga besar,” pungkas dia.
Baca Juga: Apa Alasan RI Siap Impor BBM dari Singapura?
