Update Perang Iran Hari ke-11: 140 Tentara AS Terluka, Serangan Israel Berlanjut
Perang di Timur Tengah masih terus berlangsung sejak serangan Amerika Serikat (AS) bersama Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Memasuki hari ke-11 konflik, berbagai perkembangan militer, diplomatik, hingga dampak terhadap pasar energi global terus terjadi.
Berdasarkan rangkuman berbagai laporan internasional, situasi di kawasan tersebut masih sangat tegang dengan serangan balasan, ledakan, hingga ancaman terhadap jalur energi dunia.
Baca Juga: Konflik Global Makin Memanas, Korut Resmi Bela Mojtaba Khamenei
Ratusan tentara AS terluka, Iran tolak gencatan senjata
Pentagon menyebut sekitar 140 personel militer Amerika Serikat terluka dalam berbagai serangan selama perang berlangsung.
Sebelumnya, tujuh anggota militer AS dilaporkan menjadi korban pada fase awal konflik.
Di sisi lain, Iran menegaskan tidak memiliki rencana untuk menghentikan pertempuran melalui gencatan senjata.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan sikap tersebut melalui media sosial.
“Kami tidak mencari gencatan senjata,” tegasnya.
Ia juga menyebut Amerika Serikat dan Israel harus “diberi pelajaran” agar tidak kembali menyerang Iran di masa depan.
Ledakan di Teheran dan gelombang serangan Israel
Situasi di ibu kota Iran juga dilaporkan semakin memanas setelah tiga ledakan terdengar di Teheran pada Selasa malam.
Hingga kini belum ada informasi resmi mengenai target yang menjadi sasaran ledakan tersebut.
Beberapa jam kemudian, militer Israel mengumumkan telah melancarkan gelombang serangan baru ke wilayah Teheran.
“IDF (militer) telah memulai gelombang serangan tambahan terhadap target rezim teror Iran,” tulis militer Israel di saluran Telegram resminya.
Iran juga melancarkan serangan balasan berupa rentetan rudal yang disebut menargetkan sejumlah kota di Israel, termasuk Tel Aviv, serta kepentingan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Baca Juga: PD 3 Semakin Dekat, AS Ancam Rusia terkait Iran?
Krisis energi dan kekhawatiran pasar minyak
Konflik tersebut turut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menggelar pertemuan darurat untuk membahas keamanan pasokan minyak serta kemungkinan pelepasan cadangan darurat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memperingatkan Iran agar tidak memasang ranjau di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak dunia.
Peringatan itu disampaikan setelah militer AS mengklaim telah menghancurkan 10 kapal pemasang ranjau milik Iran.
Di tengah ketegangan tersebut, harga minyak justru mengalami penurunan.
Harga minyak mentah Brent tercatat turun 11,3 persen menjadi 87,80 dollar AS per barel setelah sebelumnya sempat mendekati level 120 dollar AS.
Sementara itu, perusahaan energi Arab Saudi Aramco memperingatkan konflik ini dapat menimbulkan “konsekuensi bencana” bagi pasar minyak global jika Selat Hormuz tetap tertutup.
Ketegangan siber dan penangkapan mata-mata
Perang juga merambah ke ranah siber. Direktorat keamanan siber Israel mengungkap adanya puluhan upaya peretasan yang diduga dilakukan Iran terhadap kamera keamanan di Israel untuk tujuan spionase sejak awal konflik.
Otoritas Israel kemudian meminta masyarakat untuk segera memperbarui kata sandi dan perangkat lunak perangkat keamanan mereka.
Di sisi lain, Kementerian Intelijen Iran mengumumkan penangkapan 30 orang yang dituduh melakukan spionase untuk kepentingan musuh.
Para tersangka disebut bekerja “atas nama musuh Amerika-Zionis”.
Salah satu orang yang ditangkap disebut merupakan warga negara asing, meski kewarganegaraannya tidak diungkapkan.
Baca Juga: Operasi Militer AS DIsindir Iran, “Epic Fury” Jadi “Epic Mistake”
Seruan diplomasi hingga klaim militer yang saling bertentangan
Sejumlah negara juga mulai terlibat dalam dinamika konflik tersebut.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyerukan upaya de-eskalasi dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
“Pezeshkian berterima kasih kepada Rusia atas dukungannya, khususnya atas bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada Iran,” kata Kremlin.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran belum berakhir.
“Aspirasi kami adalah untuk membawa rakyat Iran melepaskan diri dari belenggu tirani; pada akhirnya, itu tergantung pada mereka,” ujarnya.
“Tetapi tidak diragukan lagi bahwa dengan tindakan yang telah diambil sejauh ini, kami sedang menghancurkan mereka… dan kami belum selesai,” tambahnya.
Di tengah konflik yang terus berkembang, muncul pula klaim yang saling bertentangan terkait aktivitas militer di Selat Hormuz.
Gedung Putih membantah laporan bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal kapal tanker minyak di kawasan tersebut.
“Saya dapat mengkonfirmasi bahwa Angkatan Laut AS belum mengawal kapal tanker atau kapal apa pun saat ini, meskipun tentu saja itu adalah pilihan,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.
Militer Iran juga menyebut tidak ada kapal perang Amerika Serikat yang berani mendekati kawasan tersebut selama perang berlangsung.
“Tidak satu pun kapal perang AS yang berani mendekati bahkan Laut Oman, Teluk Persia, atau Selat Hormuz selama perang,” kata juru bicara Garda Revolusi Iran Ali Mohammad Naini, menyebut klaim Amerika Serikat sebagai “kebohongan belaka”.

[…] Update Perang Iran Hari ke-11: 140 Tentara AS Terluka, Serangan Israel Berlanjut […]
[…] Update Perang Iran Hari ke-11: 140 Tentara AS Terluka, Serangan Israel Berlanjut […]