Konflik Memanas! Trump Ancam Serang Minyak Iran dan Kepung Selat Hormuz
Presiden Donald Trump memperingatkan kemungkinan dilakukannya serangan tambahan terhadap fasilitas ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg. Di saat yang sama, ia juga meminta negara-negara sekutu untuk mengerahkan kapal perang untuk menjaga keamanan Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi energi dunia.
Pernyataan tersebut muncul ketika konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memasuki minggu ketiga. Trump mengklaim serangan udara yang sebelumnya dilancarkan militer AS telah merusak sebagian besar fasilitas di Pulau Kharg yang menjadi pusat utama ekspor minyak Iran.
Baca Juga : Iran Izinkan Kapal Melintas di Selat Hormuz, Kecuali AS-Israel!
“Kami mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi,” kata Trump dikutip dari Reuters, Minggu (15/3/2026).
Pernyataan Trump tersebut menandai peningkatan tensi konflik, mengingat sebelumnya pemerintah AS menyebut operasi militer hanya menyasar fasilitas militer di Pulau Kharg. Beberapa sumber juga menyebut pemerintahan AS menolak sejumlah upaya diplomasi dari sekutu di kawasan Timur Tengah yang mendorong dimulainya negosiasi.
Konflik berkepanjangan ini memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Iran diketahui memiliki kemampuan untuk mengganggu arus kapal di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Lonjakan harga energi pun mulai terjadi seiring perang memicu gangguan terhadap distribusi minyak global. Sejumlah analis memperkirakan ketidakstabilan di pasar energi berpotensi berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.
Melalui unggahan di media sosial, Trump juga mengimbau negara-negara yang bergantung pada pengiriman minyak melalui Selat Hormuz agar ikut menjaga keamanan jalur tersebut.
“Negara-negara yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur itu, dan kami akan membantu,” tulis Trump.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran akan merespons setiap serangan yang menargetkan fasilitas energi negara tersebut.
Pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengumumkan telah meluncurkan serangan rudal dan drone yang menyasar target di Israel serta tiga pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Serangan itu disebut sebagai gelombang awal balasan atas korban tewas di kawasan industri Iran.
Militer Israel menyatakan tengah melakukan upaya pencegatan terhadap sejumlah serangan yang masuk. Sementara itu, Arab Saudi mengklaim berhasil menghancurkan 10 drone yang mengarah ke wilayah Riyadh dan kawasan timur negara tersebut.
Serangan drone juga dilaporkan mengganggu aktivitas pusat energi di Uni Emirat Arab. Di saat bersamaan, pemerintah AS juga mengeluarkan imbauan kepada warganya untuk segera meninggalkan Irak.
Perang yang dimulai pada 28 Februari oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.000 orang. Sebagian besar korban berada di Iran berdasarkan laporan pemerintah dan media negara tersebut.
Ketegangan geopolitik juga berdampak pada sektor energi global. Aktivitas pemuatan minyak di Fujairah, Uni Emirat Arab, sempat dihentikan setelah serangan drone mengguncang pusat pengisian bahan bakar kapal terbesar di dunia itu.
Baca Juga : Perkembangan Terbaru Perang di Timur Tengah, Iran Targetkan Netanyahu
Trump juga meminta sejumlah negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirim kapal perang guna menjaga keamanan Selat Hormuz. Namun hingga kini belum ada negara yang secara resmi menyatakan kesediaannya memenuhi permintaan tersebut.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Selat Hormuz seharusnya tetap ditutup. Pernyataan ini semakin memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur perdagangan energi global.

[…] Baca Juga : Trump Ancam akan Serang Minyak Iran dan Serang Selat Hormuz […]