Trump Abaikan Sekutu Arab di Tengah Ancaman Iran
Laporan terbaru mengungkap bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebenarnya telah menerima peringatan intelijen terkait potensi serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk.
Informasi ini mencuat di tengah pernyataan Trump yang sebelumnya mengaku terkejut atas serangan Teheran yang menyasar pangkalan militer dan fasilitas sipil di kawasan tersebut.
Baca Juga: Trump Izin Iran Lakukan Ini, Perang Timteng Tak Terkendali
Intelijen AS Sudah Peringatkan Risiko Serangan Iran
Seorang pejabat Amerika Serikat dan dua sumber yang mengetahui laporan intelijen menyebut bahwa potensi serangan Iran telah masuk dalam penilaian sebelum perang dimulai.
Meski tidak dianggap sebagai kepastian, skenario tersebut sudah diidentifikasi sebagai kemungkinan yang bisa terjadi.
“Penilaian intelijen sebelum perang tidak mengatakan bahwa tanggapan Iran adalah sebuah jaminan, tetapi itu tentu saja masuk dalam daftar hasil potensial,” ujar salah satu sumber kepada Reuters.
Selain itu, laporan intelijen juga telah memperkirakan kemungkinan Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi energi global.
Dalam beberapa pekan terakhir, prediksi tersebut mulai terlihat dengan adanya serangan drone dan rudal Iran ke berbagai target di kawasan Teluk, termasuk fasilitas energi dan pangkalan militer.
Sumber lain juga menyebut bahwa komunitas intelijen AS telah menilai operasi militer bersama AS dan Israel berpotensi memicu serangan balasan terhadap kepentingan Amerika di kawasan.
Namun demikian, pemerintah disebut tidak segera melakukan evakuasi staf diplomatik dari sejumlah kedutaan hingga serangan udara benar-benar dimulai.
Baca Juga: Komite Dibentuk Putra Mahkota Iran, Sinyal Gabung AS-Israel?
Trump Bantah Sudah Dapat Peringatan
Meski laporan intelijen menunjukkan adanya peringatan sebelumnya, Trump justru menyampaikan pernyataan berbeda di depan publik.
Dalam pertemuan dewan Kennedy Center di Gedung Putih, ia mengaku tidak menyangka Iran akan menyerang negara-negara lain di Timur Tengah.
“Mereka (Iran) seharusnya tidak mengincar semua negara lain di Timur Tengah ini. Tidak ada yang mengharapkan itu. Kami terkejut,” kata Trump.
Saat ditanya kembali dalam acara di Oval Office mengenai kemungkinan dirinya telah menerima briefing terkait risiko tersebut, Trump kembali membantah dengan tegas.
“Tidak ada, tidak ada, tidak, tidak, tidak. Para ahli terhebat, tidak ada yang menyangka mereka akan menyerang,” tuturnya.
Perbedaan antara pernyataan presiden dan laporan intelijen ini menambah sorotan terhadap kebijakan pemerintah AS dalam merespons konflik di Timur Tengah.
Hingga kini, pihak Gedung Putih maupun Kantor Direktur Intelijen Nasional belum memberikan komentar resmi terkait perbedaan klaim tersebut.
Baca Juga: China Turun Tangan di Timur Tengah, Siap Urus Iran & Negara Teluk
