Trump Sebut Iran Takut Akui Negosiasi dengan AS, Apa Alasannya?
Presiden Donald Trump kembali menyatakan bahwa Iran sebenarnya sedang terlibat dalam proses perundingan damai, meskipun pemerintah Teheran secara terbuka menyangkal adanya negosiasi tersebut.
Trump bahkan menyebut para perwakilan Iran enggan mengakui adanya pembicaraan karena khawatir menghadapi ancaman dari pihak internal mereka sendiri, terutama di tengah konflik yang telah memasuki pekan keempat.
Pernyataan itu disampaikan saat jamuan makan malam bersama anggota Partai Republik Amerika Serikat di Kongres Amerika Serikat pada Rabu (25/3/2026) waktu setempat. Dalam kesempatan tersebut, Trump menilai Iran memiliki keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan damai.
Baca Juga : WFH Jadi Strategi Hadapi Tekanan Hemat Energi
“Mereka sedang bernegosiasi, omong-omong, dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Tetapi mereka takut mengatakannya, karena mereka mengira mereka akan dibunuh oleh rakyat mereka sendiri,” kata Trump, dilansir AFP.
“Mereka juga takut akan dibunuh oleh kami,” tambahnya.
Iran Bantah Niat Berunding, AS Tetap Tekankan Tekanan Militer
Pernyataan Trump muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah Iran tidak memiliki rencana untuk melakukan negosiasi.
Dalam pidatonya, Trump kembali mengulang klaim bahwa Iran saat ini tengah mengalami tekanan besar dalam konflik yang berlangsung, meskipun Teheran masih mempertahankan kendali strategis atas jalur pelayaran penting di Selat Hormuz.
Selain membahas konflik eksternal, Trump juga menyinggung dinamika politik dalam negeri Amerika Serikat. Ia menuduh Partai Demokrat Amerika Serikat berupaya mengalihkan perhatian publik dari keberhasilan operasi militer yang dilakukan pemerintahannya.
“Mereka tidak suka kata ‘perang,’ karena Anda seharusnya mendapatkan persetujuan, jadi saya akan menggunakan kata operasi militer,” ujar Trump.
Sebelumnya, Gedung Putih juga menyampaikan bahwa Trump siap mengambil langkah tegas apabila Iran tidak mengakui kekalahan dalam konflik, sekaligus menegaskan bahwa komunikasi diplomatik tetap berjalan.
Media pemerintah Iran bahkan melaporkan adanya tanggapan negatif dari Teheran terhadap rancangan kesepakatan berisi 15 poin yang diajukan oleh pihak Washington.
Gedung Putih Peringatkan Iran agar Tidak Salah Perhitungan
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt memberikan peringatan keras kepada Iran agar tidak membuat kesalahan dalam membaca situasi konflik saat ini.
“Jika Iran gagal menerima realitas saat ini, jika mereka gagal memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer dan akan terus demikian, Presiden Trump akan memastikan mereka dipukul lebih keras daripada sebelumnya,” katanya kepada wartawan.
“Presiden Trump tidak menggertak dan dia siap melepaskan neraka. Iran seharusnya tidak salah perhitungan lagi,” tambahnya.
Ketika ditanya mengenai status negosiasi, Leavitt menyebut bahwa komunikasi antara kedua pihak masih berlangsung dan dinilai produktif.
Namun, ia menolak mengungkapkan secara rinci siapa pihak yang menjadi mitra dialog Washington di Teheran setelah wafatnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei. Sementara itu, penerusnya Mojtaba Khamenei disebut belum muncul secara terbuka di hadapan publik.
Baca Juga : Prabowo Senggol Praktik Under Invoicing di Pajak dan Bea Cukai
Sejumlah laporan menyebut bahwa Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf berperan sebagai salah satu penghubung dalam komunikasi tidak langsung antara kedua negara.
Di sisi lain, Gedung Putih juga tidak mengkonfirmasi laporan yang menyebutkan bahwa pejabat tinggi Amerika Serikat, termasuk Wakil Presiden JD Vance, akan menggelar pembicaraan dengan pihak Iran di Pakistan yang disebut-sebut berperan sebagai mediator penting dalam upaya diplomasi tersebut.

[…] Trump Sebut Iran Takut Akui Negosiasi dengan AS, Apa Alasannya? […]
[…] Trump Sebut Iran Takut Akui Negosiasi dengan AS, Apa Alasannya? […]
[…] Baca Juga : Trump Klaim Iran Takut Akui Negosiasi Damai dengan AS, Kenapa? […]