Sebut Sukses di Perang Iran, Netanyahu Bocorkan Target Besarnya
Perdana Menteri, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa Israel dan Amerika Serikat, saat ini sedang berada dalam keselarasan strategi dalam menghadapi Iran. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, Rabu waktu setempat.
Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi nasional, Netanyahu menekankan bahwa koordinasi antara kedua negara berjalan intensif, khususnya dalam upaya menekan ambisi nuklir Iran.
Baca Juga : Korban PHK Tembus 8.389 Orang per Maret, Jabar Tertinggi
Pidato tersebut muncul saat berbagai kritik bermunculan terkait dampak konflik dengan Iran terhadap stabilitas politik pemerintahannya.
“Teman-teman Amerika kami terus memberi kami informasi terbaru tentang kontak mereka dengan Iran. Tujuan Amerika Serikat dan tujuan kami sendiri identik,” ujarnya, seperti dikutip AFP, Kamis (16/4/2026).
Ia juga menyebut bahwa langkah-langkah yang telah diambil sejauh ini dinilai menunjukkan perkembangan positif, terutama dalam upaya menghentikan program nuklir Iran.
“Kami ingin melihat material yang diperkaya dikeluarkan dari Iran; kami ingin melihat penghapusan kemampuan pengayaan di Iran; dan, tentu saja, kami ingin melihat Selat Hormuz dibuka kembali,” tambahnya menegaskan kembali keamanan regional dan jalur perdagangan energi global.
Target Besar
Selain isu Iran, Netanyahu turut menyinggung agenda strategis lain yang berkaitan dengan Lebanon. Ia menyatakan bahwa pembubaran kelompok Hizbullah menjadi salah satu target utama dalam komunikasi langsung dengan Beirut, yang disebut sebagai kontak pertama antara kedua pihak dalam beberapa dekade terakhir.
“Dalam negosiasi dengan Lebanon, ada dua tujuan utama: pertama, pembubaran Hizbullah; kedua, perdamaian berkelanjutan… yang dicapai melalui kekuatan,” kata Netanyahu.
Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka Trump secara Permanen untuk China dan Dunia
Langkah tersebut dinilai mencerminkan eskalasi pendekatan Israel dalam menjaga stabilitas keamanan kawasan, dengan fokus pada pelemahan kelompok militan yang didukung Iran serta penguatan posisi keamanan regional.
Hingga kini, belum ada rincian angka ekonomi atau nilai transaksi yang disampaikan dalam pernyataan tersebut. Namun, penekanan pada pembukaan kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama distribusi minyak dunia, dinilai memiliki potensi dampak signifikan terhadap stabilitas harga energi global, termasuk bagi negara-negara importir energi seperti Indonesia.
