Rusia Mau Ambil Uranium Iran, AS Langsung Menolak Keras
Pemerintah Rusia melalui kantor kepresidenannya, menyampaikan bahwa Amerika Serikat menolak tawaran Moskow untuk mengambil alih kepemilikan uranium yang telah diperkaya milik Iran. Tawaran tersebut sebelumnya diajukan sebagai salah satu langkah diplomatik untuk meredakan konflik yang masih berlangsung.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, seperti dilaporkan oleh Reuters dan Anadolu Agency, Kamis (16/4/2026), mengatakan bahwa Moskow mengusulkan agar uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran dipindahkan ke wilayah Rusia. Namun, usulan itu tidak mendapat persetujuan dari Washington.
Baca Juga : Ekonomi Iran Kolaps dalam 36 Jam Blokade AS!
Menurut Peskov, Presiden Vladimir Putin telah mengajukan gagasan tersebut beberapa waktu lalu, dan menilainya sebagai solusi yang layak untuk meredakan ketegangan, meskipun pada akhirnya ditolak oleh pihak Amerika.
“Rusia siap menerima uranium yang diperkaya milik Iran di wilayahnya,” kata Peskov kepada saluran televisi India Today, seperti dikutip kantor berita RIA.
“Ini akan menjadi keputusan yang baik. Tetapi sayangnya pihak Amerika menolak proposal ini,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa Putin masih membuka peluang untuk kembali mempertimbangkan ide tersebut, apabila negara-negara yang terlibat dalam konflik meminta langkah tersebut untuk diaktifkan kembali.
Laporan sejumlah media menyebutkan bahwa Rusia pertama kali mengajukan usulan pengambilalihan stok uranium Iran pada Juni tahun lalu, tetapi tidak menghasilkan tindak lanjut berarti. Moskow kemudian kembali mengangkat proposal tersebut pada pekan ini, sebagai bagian dari upaya diplomasi lanjutan.
Sementara itu, beberapa media di AS melaporkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump, telah memutuskan untuk tidak menerima tawaran Rusia tersebut. Di sisi lain, Iran dilaporkan menyatakan bahwa setiap keputusan akan bergantung pada hasil negosiasi dengan Washington, termasuk pembahasan terkait program nuklirnya.
Pemindahan Uranium Jadi Isu Penting dalam Negosiasi
Pemerintah Washington sebelumnya menyebutkan bahwa kepemilikan uranium yang diperkaya oleh Iran, serta potensi pengembangannya menjadi senjata nuklir, menjadi salah satu alasan utama dalam tindakan militer terhadap Teheran.
Seorang wakil Menteri Luar Negeri Rusia pada tahun lalu menyatakan bahwa negaranya siap memindahkan stok uranium Iran, dan mengolahnya menjadi bahan bakar reaktor sipil. Langkah tersebut disebut sebagai upaya untuk membantu memperlancar proses negosiasi internasional.
Pemindahan uranium yang diperkaya milik Iran juga menjadi salah satu tuntutan utama dalam perundingan damai yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026. Sebagian besar material tersebut diperkirakan mencapai sekitar 450 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan hingga 60 persen, yang disebut berada di bawah fasilitas nuklir Iran yang pernah menjadi target serangan militer oleh AS dan Israel pada Juni tahun lalu.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa Iran pada akhirnya harus menyerahkan stok tersebut.
Peskov dalam keterangannya juga menolak narasi yang dijadikan dasar pembenaran perang antara AS dan Israel terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa Badan Energi Atom Internasional (IAEA), tidak pernah menemukan bukti bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.
Disebutkan oleh Peskov bahwa tuduhan semacam itu digunakan “sebagai dalih untuk agresi”.
Baca Juga : China dengan Tegas Bantah Tuduhan Bantu Iran, Ancam Balas Tarif AS!
Saat ditanya mengenai kemungkinan Rusia memberikan dukungan intelijen atau logistik militer kepada Iran, Peskov menepis tuduhan tersebut.
“Rusia tidak ikut serta dalam hal ini. Ini bukanlah perang kami.”
Menurut Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Moskow disebut memberikan bantuan militer kepada Teheran dalam berbagai bidang, meskipun tidak dirinci apakah bantuan tersebut mencakup dukungan intelijen terhadap pergerakan militer AS.
Di sisi lain, utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, sebelumnya mengatakan bahwa Putin telah secara langsung meyakinkan Trump bahwa Rusia tidak memberikan informasi intelijen kepada Iran.
