Trump Umumkan Israel-Lebanon Sepakati Gencatan Senjata 10 Hari
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata sementara selama 10 hari.
Kesepakatan tersebut mulai berlaku pada Kamis (16/4/2026) pukul 17.00 waktu setempat, setelah serangkaian pembicaraan intensif yang dimediasi oleh Washington di tengah meningkatnya konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah, yang didukung Iran.
Baca Juga : AS Diduga 18 Kali Langgar Wilayah Udara RI, Bagaimana Sikap Pemerintah?
Pihak Gedung Putih menyebutkan, bahwa Trump berperan langsung dalam proses negosiasi tersebut. Ia melakukan komunikasi melalui telepon dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun, serta dua kali berbicara dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Trump juga menyampaikan rencana untuk mengundang kedua pemimpin tersebut ke Gedung Putih dalam waktu satu hingga dua minggu mendatang, dengan tujuan membahas langkah lanjutan menuju perdamaian jangka panjang.
“Lebanon dan Israel telah mencapai kesepahaman untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi perdamaian abadi,” kata Departemen Luar Negeri AS, seraya menambahkan bahwa kedua negara sepakat menghormati kedaulatan masing-masing dan membangun keamanan di perbatasan bersama, seperti dikutip Reuters, Jumat (17/4/2026).
Trump menyebut gencatan senjata ini diharapkan menjadi tahap awal menuju kesepakatan damai yang lebih permanen. Ia juga mengungkapkan bahwa Lebanon disebut telah setuju untuk menangani keberadaan Hizbullah, yang selama ini menjadi pihak utama dalam konflik di kawasan tersebut.
Ketegangan Masih Berlanjut Meski Gencatan Senjata Disepakati
Dari pihak Israel, Netanyahu menyatakan bahwa negaranya menerima kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari tersebut, dan melihat peluang terbentuknya kesepakatan bersejarah dengan Lebanon. Namun demikian, ia menegaskan bahwa pasukan Israel tidak akan ditarik dari wilayah Lebanon selatan, dan tetap mempertahankan zona keamanan hingga mendekati perbatasan Suriah. Ia juga kembali menegaskan tuntutan utama Israel, yaitu pembubaran Hizbullah.
Di sisi lain, Hizbullah menolak apabila gencatan senjata memberikan ruang kebebasan bagi militer Israel untuk tetap beroperasi di wilayah Lebanon. Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menyatakan bahwa keberadaan militer Israel di wilayah Lebanon tetap memberi “hak untuk melawan” bagi Lebanon dan masyarakatnya.
Baca Juga : Ini Update Terbaru Perang AS dengan Iran, Apa Respons China?
Konflik di Lebanon meningkat sejak 2 Maret 2026, ketika Hizbullah melancarkan serangan sebagai bentuk dukungan terhadap Iran. Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Israel dan memicu eskalasi kekerasan di wilayah perbatasan.
Sejak konflik meningkat, lebih dari 2.100 orang dilaporkan tewas di Lebanon dan sekitar 1,2 juta penduduk terpaksa mengungsi. Sementara itu, serangan Hizbullah dilaporkan menyebabkan dua warga sipil Israel dan 13 tentara Israel tewas dalam periode yang sama.
Militer Israel juga diketahui telah memasuki wilayah Lebanon selatan hingga kawasan Sungai Litani, serta menghancurkan sejumlah permukiman. Langkah tersebut dilakukan dengan tujuan membentuk zona penyangga untuk melindungi wilayah utara Israel dari ancaman serangan Hizbullah.
