Netanyahu Ancam Rezim Iran, Trump Dilaporkan Murka
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan negaranya siap mendukung berbagai upaya untuk mengakhiri kekuasaan rezim Iran. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlangsung alot.
Dalam acara pelantikan Mayor Jenderal Roman Gofman sebagai kepala badan intelijen Israel, Mossad, Selasa (2/6/2026), Netanyahu menegaskan bahwa Iran tetap menjadi ancaman utama bagi keamanan negaranya.
“Rezim teror ini ditakdirkan untuk lenyap dari dunia, dan kami akan membantu mewujudkan hal ini,” ujarnya.
Baca Juga : Media Singapura Soroti Lemahnya Rupiah, Tapi Turis Masih Banyak
“Rezim ini tidak akan lagi mengancam kami dengan bom nuklir dan ribuan rudal balistik mematikan,” sambungnya.
Pernyataan keras Netanyahu muncul ketika upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran masih menghadapi berbagai hambatan.
Pemerintahan Presiden Donald Trump tengah berusaha mencapai kesepakatan yang bertujuan meredakan ketegangan di kawasan sekaligus memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
Namun, konflik yang terus berlangsung di Lebanon dan Gaza membuat proses diplomasi tersebut semakin rumit.
Trump Dikabarkan Marah kepada Netanyahu
Sebelumnya, laporan media Amerika menyebut Trump meluapkan kemarahannya kepada Netanyahu setelah Israel meningkatkan operasi militer di Lebanon.
Menurut laporan Axios, Trump menelepon Netanyahu pada Senin (1/6/2026) setelah Iran memutuskan menghentikan sementara proses perundingan damai.
Iran disebut menolak melanjutkan pembicaraan selama Israel masih melakukan serangan di Lebanon dan Jalur Gaza.
Dalam percakapan yang dikabarkan berlangsung dengan nada tinggi, Trump memperingatkan Netanyahu bahwa langkah Israel justru dapat memperburuk posisi diplomatik negara tersebut di mata dunia.
“Kamu benar-benar gila, kamu akan berada di penjara kalau bukan karena saya. Saya menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini,” kata Trump kepada Netanyahu.
Laporan yang beredar juga menyebut Israel akhirnya membatalkan rencana serangan udara ke Lebanon setelah mendapat tekanan dari Washington.
Iran Hentikan Dialog dengan AS
Ketegangan semakin meningkat setelah Iran memutuskan menghentikan sementara seluruh dialog dan pertukaran pesan melalui mediator dalam proses negosiasi dengan Amerika Serikat.
Keputusan tersebut diumumkan oleh kantor berita Iran, Tasnim, yang mengutip pernyataan tim perunding Teheran.
“Mengingat kejahatan berkelanjutan rezim Zionis (Israel) di Lebanon dan mengingat bahwa Lebanon adalah salah satu prasyarat untuk gencatan senjata, dan gencatan senjata ini sekarang dilanggar di semua lini, termasuk Lebanon, tim perunding Iran menangguhkan dialog dan pertukaran teks melalui mediator,” lapor Tasnim.
Menurut Iran, penghentian operasi militer Israel di Lebanon dan Gaza menjadi syarat utama untuk melanjutkan kembali proses diplomasi.
Baca Juga : Banyak Rumah Kosong, Jepang Kehilangan 3 Juta Penduduk
