SBY Ungkap Jurus RI Hadapi Krisis Global 2008, Ini Kuncinya
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengungkap kembali pengalaman Indonesia menghadapi krisis keuangan global pada 2008.
Ia menegaskan bahwa meski Indonesia tidak kebal terhadap dampak krisis, sejumlah strategi membuat perekonomian nasional tetap mampu bertahan di tengah tekanan global.
“Ketika krisis keuangan global melanda pada tahun 2008, Indonesia tidak kebal terhadap dampaknya. Namun, kita mampu bertahan karena menjaga kepercayaan, menjaga kehati-hatian fiskal, menjaga permintaan domestik, dan koordinasi kebijakan yang baik,” kata SBY dalam acara International Conference di Perbanas Institute, Jakarta Selatan, Rabu (3/6/2026).
Baca Juga: 3 Negara Pembeli Terbesar Produk RI Diungkap BPS
SBY menjelaskan bahwa pada masa krisis, kepercayaan menjadi faktor utama yang harus dijaga pemerintah. Menurut dia, pelaku pasar tidak hanya melihat angka-angka ekonomi, tetapi juga menilai kualitas tata kelola negara dalam menghadapi ketidakpastian.
Lebih lanjut, SBY juga menceritakan pengalaman Indonesia dalam proses rekonstruksi Aceh pascatsunami 2004. Ia menegaskan bahwa pemulihan saat itu tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga aspek sosial dan kemanusiaan.
“Ini tentang memulihkan martabat, membangun kembali kepercayaan, dan menciptakan perdamaian. Pembangunan menjadi berkelanjutan ketika masyarakat merasa bahwa mereka adalah bagian dari proses tersebut. Itu penting,” tutur dia.
Selain itu, dia turut menyinggung keterlibatan Indonesia dalam diplomasi iklim global, termasuk Konferensi Iklim Bali pada 2007.
Baca Juga: Laba PLN Anjlok 66 Persen pada 2025, Apa Penyebab Utamanya?
Menurut dia, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa negara berkembang memiliki peran penting dalam solusi atas tantangan global.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan fondasi yang kuat dan jelas. SBY menyebut ada tiga pilar utama yang harus berjalan seiring, yakni kebijakan, praktik, dan pendanaan.
