Iran Kaji Deal Damai AS, Trump Bantah Negosiasi Mandek
Iran saat ini masih mempelajari proposal perjanjian yang diajukan oleh Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan.
Meski sejumlah media Iran melaporkan komunikasi antara kedua negara sempat terhenti dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS Donald Trump membantah kabar tersebut dan menegaskan proses diplomasi masih berlangsung.
Iran Belum Beri Respons Final
Media Iran melaporkan bahwa Teheran hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terhadap naskah akhir usulan perjanjian sementara yang diajukan Washington.
Menurut sumber yang dikutip Mehr News Agency, Iran mengambil pendekatan yang lebih hati-hati karena mempertimbangkan sejarah panjang ketidakpercayaan terhadap AS.
Baca Juga : Iran Peringatkan AS, Perang Baru Tidak Bisa Dihindari
Sumber tersebut menyebut Teheran tetap bersikap tegas dalam menghadapi proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Sementara itu, kantor berita Fars melaporkan bahwa pertukaran pesan terkait kemungkinan kesepakatan atau nota kesepahaman sempat berhenti dalam beberapa hari terakhir.
Pesan terakhir yang disampaikan Iran disebut berkaitan dengan situasi di Lebanon, termasuk tuntutan agar operasi militer Israel terhadap kelompok Hizbullah dihentikan.
Trump Tegaskan Komunikasi Tetap Berjalan
Trump langsung membantah laporan yang menyebut proses negosiasi mengalami kebuntuan.
“Pernyataan itu salah dan keliru,” tegasnya melalui unggahan di media sosial.
“Percakapan antara kami terus berlangsung tanpa henti, termasuk empat hari lalu, tiga hari lalu, dua hari lalu, kemarin, dan hari ini,” tambahnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington masih berupaya menjaga jalur diplomasi tetap terbuka di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Program Nuklir Iran Jadi Fokus Utama
Salah satu isu paling penting dalam perundingan adalah program nuklir Iran.
Trump sebelumnya menyatakan optimistis kesepakatan baru dapat dicapai dalam waktu dekat, termasuk memperpanjang gencatan senjata yang mulai berlaku pada awal April serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sejak pertengahan Maret, Trump beberapa kali menyampaikan keyakinannya bahwa kedua negara semakin dekat menuju kesepakatan yang dapat meredakan konflik.
Di sisi lain, Marco Rubio mengungkapkan bahwa Iran kini bersedia membahas sejumlah aspek program nuklir yang sebelumnya tidak ingin dinegosiasikan.
“Iran dikenai sanksi karena pengayaan uranium tingkat tinggi. Iran dikenai sanksi karena aktivitas nuklir mereka. Jika mereka setuju melepaskan hal-hal itu, akan ada keringanan sanksi yang dikaitkan dengan komitmen dan kepatuhan mereka terhadap perjanjian tersebut,” ujar Rubio.
Namun, ia menegaskan bahwa kesediaan Iran untuk berdiskusi belum tentu menjamin tercapainya kesepakatan final.
Iran Dorong Kesepakatan yang Lebih Terbatas
Di balik proses negosiasi, sejumlah sumber menyebut Iran lebih menginginkan kesepakatan sementara dengan cakupan terbatas.
Tujuan utama Teheran adalah memperoleh keringanan ekonomi dan pelonggaran sanksi tanpa harus memberikan konsesi besar terkait program nuklirnya.
Selain itu, Iran juga menginginkan akses terhadap pendapatan minyak yang selama ini tertahan akibat sanksi internasional.
Teheran disebut meminta pengecualian untuk ekspor minyak mentah, pelonggaran pembatasan terhadap pelabuhan-pelabuhannya, serta mempertahankan pengaruh strategis di Selat Hormuz sebagai bagian dari posisi tawar dalam negosiasi.
Meski gencatan senjata yang disepakati pada awal April masih relatif bertahan, situasi keamanan di kawasan tetap rapuh.
Baca Juga : Diam-diam Trump Minta Bantuan China untuk Bujuk Putin
Dalam beberapa pekan terakhir, Iran dan AS dilaporkan masih terlibat dalam sejumlah aksi balasan yang meningkatkan ketegangan.
Konflik yang bermula dari operasi militer AS dan Israel pada akhir Februari tersebut telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, terutama di Iran dan Lebanon.
Di tengah kondisi tersebut, keberhasilan perundingan antara Washington dan Teheran menjadi faktor penting untuk mencegah konflik berkembang menjadi krisis yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
