Trump Klaim Iran Siap Serahkan Uranium, Kesepakatan Nuklir Menguat
Presiden Donald Trump pada Kamis (16/4/2026) menyampaikan bahwa Iran telah menyatakan kesediaan untuk menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya, yang selama ini menjadi isu utama dalam perundingan nuklir. Ia menilai peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran semakin terbuka.
“Ada peluang yang sangat besar kita akan membuat kesepakatan,” kata Trump, seperti dikutip AFP.
“Mereka telah setuju untuk mengembalikan ‘debu nuklir’ kepada kami,” ujarnya, menggunakan istilahnya untuk stok uranium yang diperkaya. Meski demikian, Trump tidak menjelaskan secara rinci mengenai mekanisme teknis penyerahan uranium tersebut. Hingga saat ini, pihak Iran juga belum menyampaikan konfirmasi resmi kepada publik terkait rencana penyerahan cadangan tersebut.
Baca Juga : 9 Update Timur Tengah: Israel-Lebanon Gencatan Senjata, AS-Iran Diklaim Hampir Capai Kesepakatan
Sebelumnya, Washington sempat memperingatkan akan melanjutkan serangan udara, serta mempertahankan blokade laut terhadap Iran, apabila Teheran menolak tawaran kesepakatan.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa jika memilih jalan yang salah, maka Teheran akan menghadapi blokade, dan bom yang dijatuhkan pada infrastruktur, listrik, dan energi.
Dalam perundingan nuklir yang berlangsung, Trump menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus mampu memastikan Iran tidak lagi memiliki peluang mengembangkan senjata nuklir secara permanen. Ia sebelumnya memulai operasi militer dengan alasan bahwa Iran mempercepat pengembangan bom atom, meskipun klaim tersebut tidak didukung oleh laporan badan pengawas nuklir Badan Energi Atom Internasional.
Pemerintah AS dilaporkan menginginkan penghentian total program pengayaan uranium Iran selama 20 tahun. Namun, Iran hanya mengusulkan penghentian selama lima tahun, yang kemudian ditolak oleh Washington.
Iran tetap bersikukuh bahwa program nuklirnya memiliki tujuan damai. Pemerintah di Teheran juga menegaskan hak untuk melakukan pengayaan uranium tidak dapat dicabut, meskipun tingkat pengayaan masih terbuka untuk dinegosiasikan.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyampaikan bahwa negaranya bersikap hati-hati, namun optimistis terhadap jalannya perundingan.
Pakistan Dorong Dialog Lanjutan, Ketegangan di Selat Hormuz Masih Tinggi
Upaya diplomasi yang melibatkan Pakistan, berperan dalam mendorong kelanjutan dialog antara AS dan Iran. Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, bertemu dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad, Bagher Ghalibaf, yang sebelumnya memimpin delegasi dalam putaran awal negosiasi.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut kemungkinan pembicaraan lanjutan akan digelar di Islamabad, meski waktu pelaksanaannya belum ditentukan.
Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan bahwa Iran telah ditawari sebuah “kesepakatan besar”, untuk mengakhiri konflik, serta sengketa nuklir yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Di tengah perkembangan diplomasi tersebut, gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai diberlakukan. Trump menyampaikan harapannya agar para pemimpin kedua negara dapat berkunjung ke Gedung Putih dalam beberapa hari ke depan.
Namun kondisi di lapangan masih rentan. Kelompok Hizbullah belum memberikan pengakuan resmi atas gencatan senjata tersebut, meski seorang pejabat senior menyatakan mereka akan menghormatinya jika serangan Israel dihentikan.
Militer Israel juga melaporkan tetap melakukan serangan terhadap peluncur roket Hizbullah setelah adanya tembakan dari wilayah Lebanon menjelang pemberlakuan gencatan senjata.
Ketegangan juga meningkat di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi global. Pemerintah AS meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui blokade laut, serta sanksi baru terhadap sektor minyaknya.
Komando Pusat Amerika Serikat mengklaim telah menghentikan aktivitas perdagangan laut Iran, dengan memutar balik 13 kapal yang diduga terlibat dalam pengiriman ekonomi negara tersebut.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan bahwa sanksi terbaru menyasar kalangan elit pemerintahan Iran.
Baca Juga : Dari Konflik AS-Iran, Bank Dunia Peringatkan “Kiamat” Baru!
Sebagai tanggapan, pejabat militer Iran Ali Abdollahi memberikan peringatan keras, di mana angkatan bersenjata tidak akan mengizinkan ekspor atau impor berlanjut di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah.
Penasihat militer pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan mengancam akan menenggelamkan kapal Amerika apabila AS mencoba memantau jalur pelayaran di kawasan tersebut.
Gangguan di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama sekitar seperlima distribusi minyak dunia, telah memicu lonjakan harga minyak mentah Brent Crude Oil sebesar 3,24 persen menjadi 98,01 dolar AS (sekitar Rp1,6 juta per barel).

[…] Trump Klaim Iran Siap Serahkan Uranium, Kesepakatan Nuklir Menguat […]