8 Hari Jelang Piala Dunia 2026, Mexico City Dilanda Protes dan Macet Parah
Delapan hari menjelang pertandingan pembuka Piala Dunia 2026, ibu kota Meksiko, Mexico City, menghadapi gelombang demonstrasi yang menyebabkan kemacetan parah dan gangguan aktivitas di berbagai titik kota.
Aksi protes yang digelar para guru dan pensiunan hakim pada Rabu (3/6/2026) berlangsung di tengah percepatan proyek infrastruktur menjelang turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Kondisi itu membuat jutaan warga harus menghadapi keterlambatan perjalanan dan perubahan rute akibat penutupan sejumlah jalan utama.
Situasi tersebut terjadi saat Stadion Azteca tengah bersiap menjadi lokasi pertandingan pembuka Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan pada 11 Juni mendatang.
Para demonstran memusatkan aksi di kawasan Insurgentes dan Paseo de la Reforma, dua ruas jalan paling sibuk di Mexico City.
Baca Juga: Sikap Trump soal Iran: Tak Mau Perang Lagi
Blokade yang dilakukan di sejumlah titik lain turut memperparah kemacetan di berbagai wilayah ibu kota.
Pada Selasa (2/6/2026), massa juga merobohkan patung-patung raksasa pemain sepak bola yang dipasang di Paseo de la Reforma.
Akibatnya, sejumlah pemilik toko di sepanjang jalan tersebut mulai memasang pagar besi dan papan kayu untuk melindungi tempat usaha mereka.
Koordinator Pekerja Pendidikan Nasional (CNTE), kelompok guru yang memimpin aksi, menegaskan demonstrasi mereka tidak berkaitan dengan penyelenggaraan Piala Dunia.
Mereka menuntut pemerintah memenuhi janji kampanye terkait kenaikan gaji guru dan pencabutan undang-undang tahun 2007 yang mengubah sistem pensiun serta jaminan sosial pegawai sektor publik.
“Pemerintah saat ini membuat komitmen kampanye, baik pemerintahan (mantan Presiden) Andres Manuel Lopez Obrador maupun Presiden Claudia Sheinbaum, mereka mengatakan memiliki komitmen kepada para guru untuk membatalkan reformasi tersebut. Tetapi itu tidak pernah terjadi,” ujar Rodrigo Arias, seorang guru dari negara bagian Oaxaca yang telah mengajar selama 40 tahun.
Guru Ancam Perbesar Aksi Saat Pembukaan Piala Dunia
Arias menyampaikan pernyataan tersebut di luar Kementerian Dalam Negeri ketika para pemimpin CNTE menggelar pertemuan dengan otoritas setempat.
Ia juga membantah keterlibatan anggota serikat guru dalam aksi perusakan patung pemain sepak bola yang terjadi sehari sebelumnya.
Menurut Arias, CNTE tidak memiliki niat merusak fasilitas publik maupun memicu bentrokan.
“Ada kebijakan untuk mengulur waktu, membuat komitmen yang tidak pernah benar-benar ditepati. Kami akan terus memobilisasi massa sampai kami didengar, bahkan dengan Piala Dunia yang sudah di depan mata,” tegas Arias.
Menanggapi situasi tersebut, Presiden Claudia Sheinbaum mengatakan pemerintah tidak akan terpancing oleh berbagai provokasi yang muncul selama demonstrasi berlangsung.
Ia juga menegaskan tidak akan memerintahkan penggunaan kekerasan atau tindakan represif untuk membubarkan massa.
Selain aksi guru, demonstrasi juga dilakukan para pensiunan hakim dan magistrat di pusat kota.
Mereka menuntut pembayaran pesangon dan dana pensiun setelah reformasi peradilan besar-besaran pada 2024 yang mengubah struktur sistem hukum Meksiko.
Baca Juga: Serukan Persatuan di Tengah Ketegangan, Mojtaba Khamenei Muncul
Proyek Infrastruktur Masih Dikebut
Di tengah gelombang protes, pemerintah Meksiko juga masih berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan sejumlah proyek infrastruktur menjelang pembukaan Piala Dunia.
Meksiko dijadwalkan menjadi tuan rumah 13 pertandingan selama turnamen berlangsung.
Sebanyak lima pertandingan akan digelar di Mexico City, sementara Guadalajara dan Monterrey masing-masing akan menjadi lokasi empat pertandingan.
Namun sejumlah proyek penting dilaporkan belum rampung, termasuk renovasi Bandara Internasional Benito Juarez yang merupakan bandara terbesar dan tersibuk di negara tersebut.
Perbaikan sistem kereta metro dan sejumlah jalan utama kota juga masih berlangsung.
Bahkan pada Selasa, sebuah struktur besi dari jembatan penyeberangan orang di area bandara dilaporkan runtuh dan menimpa seorang pengendara mobil hingga mengalami luka-luka.
Kondisi tersebut menambah tantangan bagi pemerintah Meksiko yang tengah berupaya memastikan kesiapan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di tengah tekanan sosial dan pembangunan yang belum sepenuhnya selesai.
