Mortir Hantam Pangkalan UNIFIL, Prajurit Serbia Tewas
Seorang anggota pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) meninggal dunia setelah sebuah pangkalan UNIFIL di Lebanon selatan terkena serangan mortir di tengah meningkatnya pertempuran antara Israel dan Hizbullah.
Insiden tersebut terjadi pada Rabu (3/6/2026) waktu setempat. Hingga kini, belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas serangan mortir tersebut.
Kematian terbaru ini menambah jumlah korban jiwa dari pasukan penjaga perdamaian menjadi tujuh orang sejak konflik terbaru di kawasan itu pecah pada Maret lalu.
Baca Juga : Kejagung Ungkap Dugaan Markup Motor Listrik BGN, Tembus Rp 1T
“Seorang pasukan penjaga perdamaian UNIFIL meninggal dunia pagi ini akibat luka kritis yang diderita ketika peluru mortir menghantam posisinya,” demikian pernyataan dari pasukan tersebut, dikutip dari AFP, Kamis.
Korban Berasal dari Serbia
UNIFIL mengonfirmasi bahwa prajurit yang tewas merupakan anggota kontingen Serbia. Selain korban meninggal, dua personel lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Pihak UNIFIL telah memulai penyelidikan internal dan meminta otoritas terkait untuk turut mengusut penyebab serta asal serangan mortir yang menghantam pangkalan mereka.
Kementerian Pertahanan Serbia menjelaskan bahwa korban sempat mendapatkan penanganan medis darurat sebelum akhirnya meninggal dunia.
“Sersan Senior Milovan Jovanovic diberikan perawatan medis darurat di sebuah rumah sakit di dalam pangkalan setelah terluka dan kemudian diangkut dengan helikopter ke Pusat Medis Universitas di Beirut, tempat ia meninggal,” kata Kementerian Pertahanan Serbia dalam sebuah pernyataan.
Saat ini, sekitar 170 personel Serbia tergabung dalam misi UNIFIL yang beranggotakan sekitar 7.500 penjaga perdamaian dari hampir 50 negara.
Ketegangan di Lebanon Selatan Terus Meningkat
Pasukan UNIFIL bertugas di wilayah Lebanon selatan yang berbatasan dengan Israel di sepanjang Garis Biru (Blue Line), perbatasan de facto sepanjang sekitar 120 kilometer yang menjadi salah satu titik paling sensitif di kawasan Timur Tengah.
Menurut UNIFIL, aktivitas militer dan serangan lintas perbatasan terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
“UNIFIL telah mendeteksi peningkatan jumlah lintasan dan dampak di Lebanon selatan,” bunyi pernyataan pasukan tersebut, menambahkan bahwa kekerasan harus diakhiri.
Tujuh Pasukan Perdamaian Tewas Sejak Konflik Pecah
Kematian prajurit Serbia menambah daftar korban dari pasukan penjaga perdamaian PBB yang bertugas di Lebanon.
Pada akhir Maret, dua personel Indonesia menjadi korban dalam insiden terpisah. Seorang prajurit meninggal setelah pangkalan mereka terkena proyektil yang menurut hasil penyelidikan awal PBB berasal dari tembakan tank Israel. Sementara seorang lainnya meninggal akibat luka yang diderita dalam insiden tersebut.
Tidak lama berselang, dua anggota kontingen Indonesia lainnya tewas akibat ledakan alat peledak rakitan (IED) yang berdasarkan penyelidikan awal PBB diduga dipasang oleh Hizbullah.
Baca Juga : Kejagung Tidak Sita Motor Listrik di Kasus BGN
Kemudian pada April, dua pasukan penjaga perdamaian asal Prancis juga dilaporkan tewas dalam sebuah penyergapan yang oleh otoritas setempat dikaitkan dengan Hizbullah, meskipun tuduhan tersebut dibantah oleh kelompok tersebut.
Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyatakan bahwa kehadiran pasukan penjaga perdamaian masih diperlukan di Lebanon meskipun mandat UNIFIL dijadwalkan berakhir pada akhir tahun ini.
Namun, usulan perpanjangan misi tersebut diperkirakan akan menghadapi tantangan diplomatik, terutama dari Amerika Serikat dan Israel yang selama ini kerap mengkritik efektivitas operasi UNIFIL di kawasan tersebut.
