Hashim Ungkap MBG Sudah Dicetuskan Prabowo sejak 2006
Utusan Khusus Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa Presiden RI, Prabowo Subianto, telah menggagas program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak tahun 2006.
Menurut Hashim, gagasan tersebut muncul karena Prabowo melihat secara langsung persoalan anak-anak yang mengalami stunting atau kekurangan gizi di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.
Baca Juga : Iran Percepat Pengisian Rudal dan Drone, Siap Perang Lawan AS!
“Stunting ini adalah yang menyebabkan Prabowo Subianto pada tahun 2006 mencetuskan ide untuk program MBG ini. Ini 2006, berarti 19 tahun lalu, 20 tahun lalu,” ujar Hashim dalam acara ABPEDNAS di Hotel Fairmont Jakarta, Minggu (19/4/2026) malam.
Hashim menjelaskan, pada periode tersebut Prabowo belum mendirikan Partai Gerindra, bahkan belum memiliki rencana untuk membentuk partai politik.
“Namun waktu itu Pak Prabowo sudah melihat bahwa stunting merupakan suatu ancaman bagi masa depan bangsa kita,” ucap dia.
Ia menambahkan, kekhawatiran Prabowo saat itu dipicu oleh data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang menunjukkan sekitar 30 persen anak Indonesia mengalami stunting. Angka tersebut dinilai berpotensi berdampak pada kualitas tenaga kerja di masa depan.
“Dan sekarang Pak Jaksa Agung, ini sekarang sudah 20 tahun, 20 tahun dari 2006 sekarang jangan-jangan 30 persen dari para pekerja kita, di desa atau di pabrik atau di kota besar menderita stunting. Coba, dengan IQ rata-rata yang saya dengar 72. Orang-orang yang stunting mereka IQ-nya rata-rata 72 dari manusia yang biasa 100,” kata Hashim.
Pelaksanaan MBG Diakui Masih Memiliki Kelemahan
Hashim juga mengakui bahwa pelaksanaan program MBG saat ini belum berjalan secara sempurna. Ia menilai hal tersebut wajar karena program ini baru pertama kali diterapkan dengan cakupan penerima manfaat yang sangat besar.
Menurutnya, sejumlah kendala di lapangan memang sempat terjadi, termasuk laporan mengenai masalah kualitas makanan yang menimbulkan insiden tertentu.
Baca Juga : Presiden Iran Tegasi Ingin Akhiri Perang secara Bermartabat!
“Kita lihat memang ada kelemahan-kelemahan, misalnya keracunan, ada timbulnya belatung-belatung dan sebagainya. Tapi saya kira ini suatu hal yang cukup wajar,” ujar Hashim.
Meski demikian, ia menilai program MBG tetap menjadi langkah penting dalam upaya meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia serta menekan angka stunting dalam jangka panjang.
