Presiden Iran Tegaskan Ingin Akhiri Perang Secara Bermartabat, Singgung Hak Nuklir
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya ingin mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel secara bermartabat di tengah ketegangan yang masih berlangsung.
Pernyataan itu disampaikan saat situasi geopolitik di Timur Tengah masih belum sepenuhnya stabil meski gencatan senjata telah diberlakukan.
Baca Juga: Iran Percepat Pengisian Rudal dan Drone di Tengah Ketegangan
Iran Tegaskan Hak Nuklir dan Sikap Pertahanan
Pezeshkian menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump yang dinilai tidak berhak mencabut hak nuklir Iran.
“Trump mengatakan bahwa Iran tidak seharusnya menggunakan hak nuklirnya, tetapi tidak menjelaskan kejahatan apa yang telah dilakukan Iran,” ujar Pezeshkian.
Ia juga mempertanyakan legitimasi sikap tersebut.
“Siapa dia sehingga berhak mencabut hak suatu bangsa?” tutur dia.
Menurut dia, setiap negara memiliki hak yang tidak dapat dicabut, termasuk dalam hal pemanfaatan teknologi nuklir.
“Dari perspektif prinsip-prinsip kemanusiaan, setiap orang bebas, terlepas dari agama, kepercayaan, ras, atau etnisnya, untuk menikmati hak-haknya yang tidak dapat dicabut,” tegas dia.
Ia menambahkan bahwa Iran bukan pihak yang memulai konflik dan hanya melakukan pembelaan diri.
“Kami adalah pasifis dan apa yang kami lakukan adalah pembelaan diri yang sah,” lanjutnya.
Baca Juga: Usai Kapalnya Ditembak di Teluk Oman, Iran Balas Serangan Drone ke AS
Konflik Masih Berlanjut di Tengah Gencatan Senjata Rapuh
Pernyataan tersebut muncul beberapa hari setelah Trump mengancam akan mengambil langkah lebih keras terhadap program nuklir Iran jika kesepakatan tidak tercapai.
Di sisi lain, Pezeshkian menyerukan masyarakat Iran untuk tetap teguh menghadapi tekanan eksternal.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga citra Iran agar tidak dianggap sebagai pemicu konflik.
Iran, kata dia, harus mengelola situasi agar “tidak menggambarkan kita sebagai penghasut perang” karena “kita sedang membela diri”.
Konflik antara AS dan Iran sendiri bermula dari serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan rudal dan drone.
Meski sempat disepakati gencatan senjata selama dua minggu sejak 8 April melalui mediasi Pakistan, situasi masih belum sepenuhnya kondusif.
Kedua pihak masih saling melontarkan ancaman, sementara upaya perundingan damai lanjutan di Islamabad belum membuahkan hasil
