Kapal Tanker Iran Menumpuk di Selat Hormuz, Sinyal Blokade AS Sukses?
Antrean panjang kapal tanker minyak Iran di sekitar pusat ekspor utama negara tersebut menjadi sinyal kuat, bahwa blokade laut Amerika Serikat mulai memberikan dampak nyata.
Meski aktivitas ekspor masih berlangsung, citra satelit terbaru menunjukkan proses pengiriman menghadapi hambatan akibat tekanan operasional yang meningkat. Di tengah situasi kawasan yang memanas, Washington tetap melanjutkan blokade meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Teheran.
Antrean Tanker Mengular di Pulau Kharg
Citra satelit bertanggal 26 April 2026 yang dirilis perusahaan intelijen maritim Windward, seperti dikutip dari Newsweek, memperlihatkan dua kapal tanker berukuran besar dengan total kapasitas sekitar 3 juta barel tengah melakukan pemuatan minyak di dermaga timur dan barat Pulau Kharg.
Baca Juga : Hizbullah Klaim Perundingan Damai Israel dan Lebanon Tidak Berguna!
Pulau ini merupakan pusat ekspor utama Iran yang menangani lebih dari 90 persen pengiriman minyak negara tersebut pada tahun sebelumnya.
Di sisi lain, antrean setidaknya delapan kapal tanker berukuran besar terlihat menunggu giliran untuk memuat minyak. Windward menilai situasi ini sebagai indikasi tekanan operasional yang semakin jelas.
“Penumpukan ini menunjukkan tekanan yang meningkat pada kapasitas ekspor, dengan kapal-kapal menumpuk di area jangkar sambil menunggu slot pemuatan,” tulis Windward. “Kombinasi pemuatan aktif dan antrean yang terus bertambah menunjukkan aktivitas ekspor masih berlangsung, tetapi terhambat oleh ritme operasional, keterbatasan infrastruktur, atau dinamika penegakan eksternal.”
Blokade AS Tetap Berjalan meski Ada Gencatan Senjata
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tetap mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, meskipun telah menyepakati gencatan senjata selama dua minggu sejak 7 April 2026, yang kemudian diperpanjang.
Gedung Putih menyampaikan bahwa Trump bersama tim keamanan nasional telah membahas proposal Iran terkait Selat Hormuz.
Sekretaris pers, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa usulan tersebut masih dalam tahap kajian tanpa memaparkan detail isi pembahasan. Ia menambahkan bahwa sikap resmi dari presiden akan disampaikan dalam waktu mendatang.
Lalu Lintas Kapal Merosot Tajam
Ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menutup Selat Hormuz untuk lalu lintas sipil menyusul serangan bom oleh Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026. IRGC dilaporkan terus menghambat kapal komersial menggunakan ranjau laut, drone, serta serangan rudal.
Akibat situasi tersebut, lalu lintas kapal di jalur strategis itu mengalami penurunan signifikan. Pusat Informasi Maritim Gabungan milik Amerika Serikat mencatat hanya empat kapal yang melintas pada Minggu terakhir April 2026, jauh di bawah rata-rata sebelum konflik yang mencapai sekitar 138 kapal per hari.
Strategi Menekan Ekonomi Iran
Blokade yang dijalankan oleh United States Central Command bersama Armada ke-5 sejak 13 April 2026 bertujuan membatasi arus barang keluar dan masuk pelabuhan Iran, termasuk energi dan perlengkapan militer.
Namun, pejabat Amerika Serikat seperti Menteri Keuangan Scott Bessent secara terbuka menyebut bahwa tujuan utama kebijakan tersebut adalah menekan pendapatan Iran dengan memaksa negara itu menyimpan minyak alih-alih mengekspornya.
Analis dari Kpler, Homayoun Falakshahi, menilai dampak kebijakan tersebut mulai terlihat dalam aktivitas industri minyak Iran.
“Blokade AS mulai secara nyata mengganggu aliran minyak Iran, dengan aktivitas pemuatan yang anjlok dan kapasitas penyimpanan yang cepat penuh,” ujarnya.
Ia memperkirakan produksi minyak Iran dapat turun dari sekitar 2,75 juta barel per hari menjadi hanya 1,2 hingga 1,3 juta barel per hari pada pertengahan Mei 2026 apabila blokade terus berlanjut.
Jaringan “shadow fleet” Ikut Diburu
Lebih dari 90 persen minyak Iran yang terkena sanksi diketahui dijual ke kilang kecil di China melalui jalur langsung maupun transfer ilegal di laut lepas, termasuk di wilayah perairan Malaysia.
Baca Juga : Ini Isi Proposal Iran yang Ditolak Trump
Untuk memperketat tekanan, Kantor Pengawasan Aset Asing Amerika Serikat (OFAC) menjatuhkan sanksi terhadap sekitar 40 perusahaan serta kapal yang diduga terlibat dalam jaringan pengiriman ilegal yang dikenal sebagai “shadow fleet”.
Salah satu kapal yang menjadi target adalah tanker gas berbendera Panama bernama Sevan, yang dicegat oleh Angkatan Laut Amerika Serikat di Laut Arab tak lama setelah meninggalkan Teluk Persia.
Kapal tersebut diketahui sering mengirim muatan ke Bangladesh dan kelompok Houthi di Yaman. Hingga hari ke-14 operasi, Angkatan Laut Amerika Serikat melaporkan telah memutar balik sedikitnya 38 kapal yang mencoba melintas.

[…] Baca Juga : Sinyal Blokade AS Berhasil, Kapal Tanker Iran Menumpuk di Hormuz […]