Iran Masuki Era Baru, IRGC Kini Lebih Dominan dari Ulama
Dua bulan setelah serangan Amerika Serikat dan Israel, struktur kekuasaan di Iran dilaporkan mengalami perubahan besar yang belum pernah terjadi sejak Revolusi Iran 1979.
Negara yang sebelumnya berpusat pada otoritas ulama kini disebut bertransformasi menjadi sistem yang didominasi kekuatan militer, terutama setelah tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dan naiknya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi.
Meski secara formal berada di puncak kekuasaan, Mojtaba dinilai lebih berperan sebagai pemberi legitimasi bagi keputusan yang diambil oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Baca Juga: UEA Putuskan Keluar dari OPEC, Peta Kekuatan Minyak Dunia Berganti?
Lambatnya Komando dan Diplomasi
Perubahan struktur ini berdampak langsung pada cara Teheran merespons tekanan internasional.
Sistem komando yang sebelumnya terpusat kini berubah menjadi kolektif di bawah lembaga keamanan, membuat proses pengambilan keputusan lebih lambat dan birokratis.
Seorang pejabat senior Pakistan yang terlibat dalam mediasi mencatat lambatnya respons Iran dalam diplomasi.
“Respons Iran sangat lambat. Tampaknya tidak ada struktur komando pengambilan keputusan tunggal. Terkadang, mereka membutuhkan waktu dua hingga tiga hari untuk merespons,” ujar pejabat tersebut, dikutip dari Reuters, Selasa (28/4/2026).
Di panggung diplomasi, Abbas Araghchi dan Mohammed Bagher Ghalibaf menjadi wajah negosiasi.
Namun, kendali utama disebut berada di tangan komandan IRGC, Ahmad Vahidi, yang menentukan arah strategi militer dan diplomasi.
Antara Gengsi dan Kelemahan
Di tengah tekanan militer dan blokade ekonomi, baik Washington maupun Teheran dinilai enggan menunjukkan fleksibilitas.
Mantan diplomat AS Alan Eyre menilai kedua pihak terjebak dalam perang psikologis.
“Kedua pihak tidak ingin bernegosiasi. Bagi keduanya, fleksibilitas akan dianggap sebagai kelemahan,” ungkap Eyre.
IRGC disebut khawatir jika membuka negosiasi nuklir sejak awal, langkah itu akan dipandang sebagai bentuk ketundukan terhadap Amerika Serikat.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menghadapi tekanan politik domestik menjelang pemilihan, sehingga ruang komprominya terbatas.
Baca Juga: AS Disinggung Senator Rusia, Perang Iran Tak Semudah Venezuela
Dari Ulama ke Sektor Keamanan
Perubahan ini menandai berakhirnya dominasi ulama tradisional dalam sistem kekuasaan Iran dan bergesernya kendali ke sektor keamanan.
Analis Arash Azizi menilai posisi Mojtaba tidak cukup kuat untuk menentang lembaga keamanan.
“Kesepakatan penting mungkin melewati dia, tetapi saya tidak melihat dia akan mengesampingkan Dewan Keamanan Nasional. Bagaimana mungkin dia menentang mereka yang menjalankan upaya perang?” tutur Azizi.
Sementara itu, mantan negosiator AS Aaron David Miller menilai perubahan ini sebagai pergeseran fundamental dalam sistem pemerintahan Iran.
“Dari pengaruh ulama ke pengaruh Korps Garda Revolusi. Beginilah cara Iran diperintah,” jelas Miller.
Hingga memasuki pekan kesembilan konflik, Iran dinilai tetap solid di bawah kendali IRGC tanpa tanda-tanda perpecahan internal, menunjukkan bahwa mesin keamanan kini tidak hanya menjalankan perang, tetapi juga mengarahkan masa depan negara.

[…] Iran Masuki Era Baru, IRGC Kini Lebih Dominan dari Ulama […]