Blokade AS Memanas, Kapal yang Diduga Terkait Iran Diperiksa
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah pasukan Amerika Serikat (AS) menaiki sebuah kapal dagang di Laut Arab yang diduga melanggar blokade terhadap pelabuhan Iran.
Insiden tersebut terjadi pada Selasa (28/4/2026), ketika marinir AS melakukan pemeriksaan terhadap kapal M/V Blue Star III yang dicurigai memiliki tujuan pelayaran ke Iran.
Setelah dilakukan penggeledahan, kapal tersebut akhirnya dilepaskan kembali oleh otoritas AS.
“Kapal M/V Blue Star III dibebaskan oleh pasukan AS setelah melakukan pencarian dan memastikan bahwa pelayaran kapal tersebut tidak akan mencakup singgah di pelabuhan Iran,” kata Komando Pusat AS dalam sebuah unggahan di X, dikutip dari AFP, Rabu (29/4/2026).
“Pasukan AS terus beroperasi dan menegakkan blokade di seluruh Timur Tengah. Sejauh ini, 39 kapal telah dialihkan untuk memastikan kepatuhan,” tambahnya.
Baca Juga: Jerman Sebut Iran Permalukan AS, Trump Emosi
Detik-detik pasukan AS naiki kapal yang menuju Iran
Rekaman video yang dirilis menunjukkan sebuah helikopter militer melayang di atas kapal sebelum marinir turun menggunakan tali ke dek yang dipenuhi kontainer.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya penegakan blokade yang diberlakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Blokade tersebut diberlakukan setelah perundingan damai antara Iran dan AS di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.
Di sisi lain, Iran sebelumnya menutup jalur vital Selat Hormuz usai serangan udara gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026.
Kepala Pentagon Pete Hegseth menyatakan bahwa blokade akan berlangsung selama diperlukan, sementara Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine menegaskan bahwa kebijakan tersebut berlaku untuk semua kapal tanpa memandang kewarganegaraan.
Baca Juga: Ketidakpastian Suku Bunga AS Dipicu Pergeseran Pimpinan The Fed
Upaya negosiasi damai Iran-AS
Di tengah ketegangan tersebut, upaya diplomasi antara Iran dan AS masih terus berlangsung meski belum menunjukkan hasil signifikan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahkan melakukan perjalanan ke Rusia untuk membahas perkembangan terbaru negosiasi.
Setibanya di St Petersburg, Araghchi mengakui bahwa pembicaraan sebelumnya belum menghasilkan kesepakatan, meskipun sempat menunjukkan kemajuan.
Ia juga menilai tuntutan dari pihak AS menjadi salah satu penyebab utama kebuntuan.
Sementara itu, analis dari International Crisis Group, Ali Vaez, menilai peran Rusia tidak serta-merta menjadi solusi dalam konflik ini.
“Putin sebelumnya telah menawarkan bantuan, tetapi tidak berhasil karena berbagai alasan. Yang dibutuhkan bukanlah kiat menghadapi Trump, melainkan fleksibilitas dari kedua belah pihak,” ujarnya, seperti yang dikutip dari Newsweek.
Vaez juga menekankan bahwa penyelesaian konflik, termasuk terkait Selat Hormuz, membutuhkan pengakuan dan keterlibatan internasional yang lebih luas.
