CNG Pengganti LPG? Ini Kelebihan dan Risikonya
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengembangkan penggunaan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk kebutuhan rumah tangga.
Saat ini, pemerintah sedang menguji penggunaan tabung CNG berukuran kecil atau 3 kilogram. Sebelumnya, pemanfaatan CNG sudah diterapkan pada sektor transportasi, hotel, hingga restoran dengan kapasitas tabung lebih besar, mulai 12 kilogram hingga 20 kilogram.
Dorongan penggunaan CNG dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang masih sangat tinggi. Dari total kebutuhan LPG nasional sekitar 8,6 juta ton per tahun, produksi domestik hanya mampu memenuhi sekitar 1,6-1,7 juta ton. Artinya, sekitar 80-84% kebutuhan LPG masih dipenuhi lewat impor.
Lantas, apa sebenarnya CNG? Berikut penjelasannya.
Pengertian dan Spesifikasi CNG
Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2012 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga Bahan Bakar Gas untuk Transportasi Jalan, CNG merupakan gas yang berasal dari gas bumi dengan kandungan utama metana (C1).
Gas tersebut dimanfaatkan, lalu disimpan di dalam tabung bertekanan tinggi agar lebih praktis untuk distribusi dan penggunaan, termasuk sebagai bahan bakar kendaraan.
Baca Juga : Rp 75 Triliun Disetorkan Freeport ke Negara, Papua Kebagian Triliunan
Berdasarkan informasi dari PT PGN, gas alam tersusun dari campuran hidrokarbon seperti metana (C1), etana (C2), propana (C3), dan butana (C4). Adapun CNG memiliki kandungan metana hingga 95%.
Gas alam sendiri dapat diolah menjadi berbagai produk energi seperti LPG, Liquefied Natural Gas (LNG), maupun CNG.
Meski sama-sama berbasis gas alam, CNG, LPG, dan LNG memiliki karakteristik berbeda. CNG disimpan dalam bentuk gas bertekanan tinggi, LPG berbentuk cair pada tekanan dan suhu moderat, sementara LNG berbentuk cair dengan suhu sangat rendah.
Keuntungan Penggunaan CNG
Mengutip laman resmi PT PGN, CNG menawarkan sejumlah keunggulan dibanding bahan bakar konvensional lainnya, di antaranya:
- Emisi lebih rendah sehingga membantu mengurangi polusi udara.
- Harga relatif stabil karena tidak terlalu bergantung pada fluktuasi harga minyak dunia.
- Bersumber dari cadangan gas alam yang melimpah sehingga dinilai lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Asosiasi Perusahaan Liquefied & Compressed Natural Gas Indonesia (APLCNGI) juga menyebut CNG memiliki fleksibilitas distribusi karena dapat menjangkau wilayah yang belum terhubung jaringan pipa gas.
“Bicara bagaimana pemanfaatan gas bumi ini untuk rumah tangga salah satu yang efektif dan efisien yang sudah ada itu memang melalui klaster pipa. Dan itu bisa melayani untuk wilayah-wilayah yang jauh dari pipa,” ujarnya dalam acara diskusi oleh ASPEBINDO, dikutip Jumat (8/5/2026).
Selain itu, teknologi tabung CNG kini mulai menggunakan material komposit atau karbon sehingga lebih ringan dan kuat dibanding tabung besi konvensional.
Pemanfaatan CNG juga telah diterapkan melalui sistem klasterisasi pipa di sejumlah wilayah seperti Yogyakarta dan Sleman.
Kekurangan CNG
Di balik sejumlah kelebihannya, penggunaan CNG juga memiliki beberapa tantangan.
Berdasarkan informasi PT PGN, keterbatasan infrastruktur menjadi salah satu kendala utama karena stasiun pengisian CNG belum tersedia secara merata.
Selain itu, CNG membutuhkan ruang penyimpanan lebih besar karena gas harus dikompresi pada tekanan tinggi.
Potensi Risiko Penggunaan CNG
Penelitian dalam Journal of Safety Science and Resilience yang diterbitkan Science Direct pada September 2024 berjudul “Compressed Natural Gas (CNG) as a fuel and the associated risks: A quantitative analysis in the scenario of a developing country” menyebut penggunaan CNG tetap memiliki sejumlah potensi risiko.
Risiko terbesar berasal dari desain infrastruktur dan stasiun pengisian yang tidak memenuhi standar keselamatan. Biaya pembangunan stasiun CNG yang mahal membuat sebagian operator mengurangi komponen keselamatan demi efisiensi biaya.
Kualitas tabung juga menjadi perhatian penting karena tabung dengan standar buruk dapat meningkatkan risiko ledakan.
Selain itu, faktor kesalahan manusia seperti merokok di area pengisian gas turut menjadi risiko yang signifikan.
Penelitian tersebut juga menyoroti risiko ekonomi berupa kekhawatiran konsumen terhadap ketersediaan pasokan CNG.
Sementara dari sisi lingkungan, meski CNG tergolong tidak beracun, sifat gas yang mudah terbakar tetap menimbulkan potensi ledakan apabila terjadi kebocoran.
Pemanfaatan CNG di Berbagai Sektor
Pemanfaatan CNG saat ini sudah diterapkan di berbagai sektor, mulai dari transportasi, industri, hingga rumah tangga.
Sektor Transportasi
Pada sektor transportasi, CNG digunakan sebagai bahan bakar kendaraan karena menghasilkan emisi yang lebih rendah dibanding bahan bakar konvensional.
Sektor Industri
Di sektor industri, CNG dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk proses produksi karena dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan.
Baca Juga : Prabowo Serukan ASEAN Tetap Solid di Tengah Gejolak Konflik Global
Sektor Rumah Tangga
Untuk rumah tangga, CNG diproyeksikan menjadi alternatif LPG untuk kebutuhan memasak dan pemanas air karena dinilai lebih ekonomis dan ramah lingkungan.
Perbedaan CNG dan LPG
APLCNGI mencatat terdapat sejumlah perbedaan mendasar antara LPG dan CNG.
LPG
- Komposisi utama berupa propana (C3H8) dan butana (C4H10)
- Disimpan dalam bentuk cair bertekanan rendah
- Menggunakan tabung gas konvensional
- Banyak digunakan rumah tangga dan industri kecil
- Lebih praktis untuk distribusi
- Emisi lebih tinggi dibanding gas alam
CNG
- Didominasi kandungan metana (CH4)
- Disimpan dalam bentuk gas bertekanan tinggi
- Menggunakan tabung silinder khusus
- Umumnya dipakai untuk transportasi dan industri
- Emisi lebih rendah dan lebih hemat biaya
- Distribusi masih terbatas karena kendala teknis

[…] CNG Pengganti LPG? Ini Kelebihan dan Risikonya […]