Kapal Qatar Tembus Hormuz, Meski Iran-AS Memanas
Sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) milik Qatar mulai bergerak menuju Selat Hormuz pada Sabtu (9/5/2026), di tengah memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan data pelayaran LSEG yang dikutip Reuters, kapal tersebut berlayar menuju Pakistan setelah memperoleh izin dari Iran. Langkah itu dinilai sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan antara Iran, Qatar, dan Pakistan yang kini berperan sebagai mediator konflik.
Baca Juga : Ini Kelebihan dan Resiko CNG, Gas Pengganti LPG
Apabila pelayaran berlangsung lancar, kapal tersebut akan menjadi tanker LNG Qatar pertama yang melintasi Selat Hormuz sejak perang pecah pada akhir Februari lalu. Sebelumnya, jalur strategis tersebut nyaris lumpuh akibat blokade dan bentrokan militer antara AS dan Iran.
AS Masih Tunggu Jawaban Iran
Meski kapal LNG mulai kembali melintas, ketegangan di kawasan Teluk masih belum mereda. Pemerintah AS hingga kini masih menanti respons Iran terhadap proposal terbaru Washington guna mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari dua bulan.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. mengatakan Washington berharap Teheran segera memberikan jawaban. Namun sampai Sabtu, belum ada sinyal Iran akan menerima proposal tersebut.
Rubio juga melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, di Miami guna membahas stabilitas kawasan Timur Tengah.
“Kami perlu terus bekerja sama untuk mencegah ancaman dan meningkatkan stabilitas serta keamanan di seluruh Timur Tengah,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott.
Bentrokan di Selat Hormuz Masih Berlanjut
Di sisi lain, bentrokan sporadis di sekitar Selat Hormuz masih terus terjadi. Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan pasukan Iran kembali terlibat kontak dengan kapal militer AS pada Jumat.
Militer AS mengklaim telah menyerang dua kapal yang berafiliasi dengan Iran dan memaksa kapal tersebut berbalik arah setelah jet tempur Amerika menargetkan cerobong asap kapal.
Sebelum perang pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Karena itu, setiap eskalasi di jalur tersebut langsung memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan stabilitas ekonomi dunia.
Baca Juga : Penguatan Kerja Sama Pertahanan Tengah Dibahas antara RI dan Kuwait
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya sempat meluncurkan “Project Freedom”, yakni misi pengawalan kapal di Selat Hormuz. Namun program itu dihentikan hanya dalam waktu 48 jam setelah Iran meningkatkan serangan di kawasan Teluk.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menilai langkah AS justru merusak peluang diplomasi.
“Setiap kali solusi diplomatik ada di meja perundingan, AS memilih petualangan militer yang gegabah,” kata Abbas Araqchi.
