Pemerintah Siapkan CNG Jadi Alternatif LPG, Pasokan Gas RI Dinilai Melimpah
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai mendorong pemanfaatan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Indonesia.
Langkah tersebut dilakukan seiring melimpahnya cadangan gas bumi domestik, khususnya yang mengandung gas metana (C1) dan etana (C2). Sementara itu, bahan baku utama LPG berupa propana (C3) dan butana (C4) dinilai semakin terbatas.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan Indonesia memiliki sumber daya gas yang sangat besar untuk mendukung pengembangan CNG sebagai energi domestik.
Menurut dia, temuan cadangan gas baru dalam skala besar juga memperkuat potensi pengembangan energi tersebut dalam jangka panjang.
“Kan kita punya gas banyak dan sekarang sudah ditemukan lagi gas-gas yang besar ya, kayak kemarin yang Eni (temuan lapangan gas jumbo di laut dalam Kalimantan Timur) itu… kan itu besar,” ujar Laode saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Baca Juga: Diklaim, TNI AL Selamatkan Rp14,8 Triliun Sepanjang 2025
Pemerintah pun mulai mengoptimalkan pemanfaatan gas domestik guna mengurangi ketergantungan impor LPG yang selama ini masih sangat tinggi. Saat ini kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sedangkan produksi dalam negeri baru berada di kisaran 1,6 juta hingga 1,7 juta ton.
Artinya, sekitar 80 hingga 84 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor.
“Sebenarnya alternatif dan pengganti kan artinya sama ya. Cuman kalau kita bilang pengganti itu masif sama besar, kalau alternatif kita ada tahapan-tahapannya. Yang benar itu kita ada tahapan-tahapannya,” lanjutnya.
Pemerintah saat ini juga sedang menyiapkan peta jalan transisi penggunaan energi tersebut agar implementasinya berjalan bertahap dan tidak mengganggu pelayanan masyarakat.
Sebagai tahap awal, penggunaan tabung CNG akan diuji coba melalui sejumlah proyek percontohan di beberapa wilayah.
“Tahun ini sudah akan ada beberapa pilot project. Tahun ini sudah ada,” kata Laode.
Pemerintah Siapkan Skema Subsidi CNG
Selain menyiapkan proyek percontohan, pemerintah juga tengah menguji penggunaan CNG ukuran kecil sekitar 3 kilogram. Sebelumnya, penggunaan CNG lebih banyak diterapkan di sektor transportasi, hotel, hingga restoran dengan kapasitas tabung lebih besar.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tetap akan memberikan subsidi bagi CNG apabila program tersebut nantinya diterapkan secara luas kepada masyarakat.
Menurut Bahlil, kebijakan itu merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar program energi nasional tetap berpihak kepada masyarakat.
“Arahan Bapak Presiden, baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi yang harus dilakukan untuk rakyat, ya,” ujar Bahlil beberapa waktu lalu.
Pemerintah bahkan menargetkan harga jual CNG nantinya bisa setara dengan LPG 3 kilogram yang saat ini digunakan masyarakat.
“Doakan seperti itu ya. Minimal sama. Minimal sama,” kata Bahlil.
Meski demikian, pemerintah menegaskan program tersebut masih berada dalam tahap kajian dan uji coba sehingga skema harga maupun distribusinya belum diputuskan sepenuhnya.
“Nanti, nanti. Makanya kita lagi uji coba. Ini belum diimplementasikan, ya. Saya ulangi, ya. Ini masih dalam exercise,” ujarnya.
Baca Juga: Selat Hormuz Dipuji Menlu Singapura, Singgung Dampak Penutupan Hormuz
Apa Itu CNG?
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2012, CNG merupakan gas yang berasal dari gas bumi dengan kandungan utama metana (C1) yang dimampatkan dan disimpan dalam tabung bertekanan tinggi.
Gas tersebut digunakan sebagai bahan bakar karena lebih mudah diangkut dan disimpan.
Mengacu pada informasi PT PGN, gas alam terdiri dari berbagai unsur hidrokarbon seperti metana, etana, propana, hingga butana. Adapun CNG mengandung sekitar 95 persen metana.
CNG juga berbeda dengan LPG maupun Liquefied Natural Gas (LNG). Perbedaan utamanya terletak pada bentuk fisik dan metode penyimpanannya.
CNG disimpan dalam bentuk gas bertekanan tinggi, LPG berbentuk cair pada tekanan moderat, sedangkan LNG disimpan dalam bentuk cair pada suhu yang sangat rendah.
