Iran Sebut AS Melemah, Peluang Perang Baru Rendah
Seorang pejabat senior Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menilai kemungkinan pecahnya perang baru antara Iran dan Amerika Serikat sangat kecil. Meski begitu, Iran menegaskan tetap berada dalam kondisi siaga penuh untuk menghadapi kemungkinan serangan.
Wakil Kepala Politik Angkatan Laut IRGC Mohammad Akbarzadeh mengatakan pihaknya menilai lawan berada dalam kondisi melemah.
“Kemungkinan perang rendah karena kelemahan musuh, angkatan bersenjata sedang menunggu dengan amunisi penuh,” kata Akbarzadeh, dikutip dari Tasnim, Rabu (27/5/2026).
Ia juga melontarkan peringatan keras terhadap pihak yang dianggap mencoba menyerang Iran.
Baca Juga : Istana Buka Suara Penggunaan APBN untuk Beli Sapi Kurban Prabowo
“Jangan ragukan bahwa kami akan mengubah wilayah dari Chabahar hingga Mahshahr menjadi kuburan bagi para agresor,” sambungnya.
Pernyataan itu merujuk pada wilayah pesisir selatan Iran yang membentang di kawasan strategis Teluk Persia.
IRGC Klaim Tembak Jatuh Drone dan Jet Tempur AS
Sebelumnya, IRGC mengklaim telah menembak jatuh pesawat tanpa awak milik AS yang disebut memasuki wilayah udara Iran di kawasan Teluk Persia.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut unit pertahanan udara berhasil menghancurkan drone MQ-9 milik militer AS.
“Pesawat militer AS memasuki wilayah udara Iran di kawasan Teluk Persia dan unit pertahanan udara Korps Garda Revolusi Islam mengidentifikasi dan menembak jatuh sebuah drone MQ-9,” kata IRGC dalam pernyataannya, dikutip AFP, Selasa (26/5/2026).
IRGC juga mengklaim telah menembaki drone RQ-4 dan jet tempur F-35 yang disebut memasuki wilayah udara Iran. Namun, pihak Iran tidak menjelaskan waktu pasti insiden tersebut terjadi.
AS Klaim Serang Lokasi Militer Iran di Selat Hormuz
Pernyataan IRGC muncul hanya beberapa jam setelah AS mengaku melancarkan serangan terhadap lokasi peluncuran roket dan kapal Iran yang disebut tengah mencoba menebar ranjau di kawasan Selat Hormuz.
Washington menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai langkah defensif di tengah gencatan senjata dan pembicaraan damai yang masih berlangsung antara kedua negara.
United States Central Command (Centcom) menyebut operasi militer itu bertujuan melindungi pasukan AS dari ancaman Iran.
“Komando Pusat AS terus membela pasukan kami sambil menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung,” kata Juru Bicara Centcom, Tim Hawkins.
Media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan ledakan keras terdengar di sekitar Bandar Abbas sekitar tengah malam waktu setempat.
Negosiasi AS-Iran Masih Berlangsung di Tengah Ketegangan
Di tengah meningkatnya ketegangan militer, proses negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat masih terus berlangsung.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan peluang tercapainya kesepakatan damai masih terbuka dalam beberapa hari ke depan.
“Ada beberapa pembicaraan yang berlangsung di Qatar hari ini, jadi kita akan lihat apakah kita bisa membuat kemajuan,” ujarnya.
Baca Juga : Di 2026 Bertemu Macron Tiga Kali, Ini Agenda Prabowo
“Saya pikir ada banyak pembicaraan bolak-balik tentang bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi akan memakan waktu beberapa hari,” tambahnya.
Rubio menegaskan Presiden Donald Trump menginginkan kesepakatan yang kuat atau tidak ada kesepakatan sama sekali.
Ia juga memastikan Selat Hormuz harus tetap dibuka demi menjaga stabilitas perdagangan global.
“Mereka akan tetap buka, jadi mereka harus buka. Apa yang terjadi di sana melanggar hukum, ilegal, tidak berkelanjutan bagi dunia, dan tidak dapat diterima,” tegasnya.
