Iran Tutup Selat Hormuz, AS Gempur 300 Target Militer
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat, setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat (Centcom) dan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saling melancarkan serangan balasan di kawasan Selat Hormuz.
Perkembangan terbaru menunjukkan Angkatan Laut IRGC menutup sementara jalur pelayaran Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Langkah tersebut diambil setelah insiden penyerangan terhadap tiga kapal tanker komersial pada awal pekan yang memicu baku tembak antara Iran dan Amerika Serikat.
Melalui pernyataan yang disiarkan stasiun televisi pemerintah IRIB, Angkatan Laut IRGC menegaskan bahwa campur tangan asing maupun upaya menggunakan jalur pelayaran yang dianggap ilegal akan ditindak tegas.
Baca Juga : AS Klaim Gempur 140 Target Iran, Hormuz Masih Ditutup
Iran juga memperingatkan bahwa setiap tindakan militer Amerika Serikat sebagai respons atas penutupan Selat Hormuz akan dibalas dengan keras.
Menurut IRGC, kapal-kapal yang mematikan sistem identifikasi dan keluar dari rute pelayaran yang ditetapkan Iran telah diberi tembakan peringatan. Beberapa kapal disebut mengabaikan instruksi untuk kembali ke jalur yang ditentukan.
“Tidak ada kapal yang akan diizinkan melewati selat tersebut sampai campur tangan AS di wilayah itu berakhir,” tegas Angkatan Laut IRGC.
AS Klaim Hancurkan Ratusan Target Militer Iran
Sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal berbendera Siprus di Selat Hormuz, militer Amerika Serikat mengklaim telah menyelesaikan gelombang ketiga operasi militernya pada Minggu (12/7/2026).
“Pasukan AS telah menyerang 140 target militer, termasuk lokasi rudal dan drone Iran, kemampuan angkatan laut, fasilitas penyimpanan amunisi, jaringan komunikasi, dan lokasi pengawasan pantai,” bunyi pernyataan resmi Centcom yang dikutip dari Al Jazeera.
Centcom menyatakan lebih dari 300 target militer Iran telah dihantam dalam operasi yang berlangsung selama tiga malam berturut-turut.
Menurut militer AS, operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam kapal dagang serta pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz.
Centcom juga mengungkapkan bahwa sejak awal Mei, pasukan AS telah membantu lebih dari 800 kapal komersial yang membawa muatan, termasuk sekitar 400 juta barel minyak, agar dapat melewati Selat Hormuz dengan aman.
Iran Balas Serang Pangkalan AS dan Negara-Negara Teluk
Di sisi lain, Iran mengklaim melancarkan fase ketiga serangan balasan yang menyasar fasilitas militer Amerika Serikat dan sejumlah negara Teluk, termasuk Oman, Kuwait, dan Qatar.
IRGC menyebut telah menyerang pusat dukungan logistik serta fasilitas pengisian bahan bakar yang digunakan kapal induk AS di Pelabuhan Duqm, Oman.
Baca Juga : Ketegangan Memanas, Iran Tutup Lagi Selat Hormuz
Melalui keterangan kepada IRIB, kantor humas IRGC menyatakan fasilitas tersebut telah dihancurkan dalam serangan.
Sementara itu, Kuwait melaporkan adanya serangan udara yang memasuki wilayah negaranya. Staf Umum Angkatan Darat Kuwait menyatakan pasukan pertahanan udara sedang menghadapi ancaman tersebut.
Melalui unggahan di X, militer Kuwait menjelaskan suara ledakan yang terdengar berasal dari sistem pertahanan udara yang mencegat serangan.
“Semua orang diminta untuk mematuhi instruksi keamanan dan keselamatan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang yang berwenang,” tulis militer Kuwait dalam pernyataannya.
Situasi serupa juga terjadi di Qatar. Kementerian Dalam Negeri Qatar kembali menaikkan status ancaman keamanan ke level tinggi untuk kedua kalinya pada hari yang sama.
Pemerintah Qatar turut mengimbau seluruh warga agar tetap berada di dalam rumah atau mencari tempat yang aman sebagai langkah antisipasi terhadap eskalasi konflik di kawasan.
