Israel Perluas Operasi Darat di Lebanon, Puluhan Tewas dalam Serangan
Militer Israel dilaporkan memperluas operasi daratnya di wilayah Lebanon selatan hingga melewati zona keamanan yang sebelumnya ditentukan. Langkah tersebut dibarengi gelombang serangan udara besar-besaran yang menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai puluhan lainnya.
Berdasarkan laporan dua sumber keamanan kepada Reuters, pasukan Israel kini bergerak melewati kawasan yang dikenal sebagai “Garis Kuning”, yakni area usulan zona penyangga sejauh 5 hingga 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon selatan.
Sebelumnya, militer Israel telah melarang warga di puluhan desa dalam area zona penyangga untuk kembali ke rumah mereka. Pasukan Israel juga disebut terus menghancurkan bangunan dan rumah-rumah di kawasan tersebut.
Baca Juga : Belum Ada Setahun, Prabowo Sudah Tiga Kali ke Perancis
Seorang pejabat militer Israel mengonfirmasi bahwa pergerakan pasukan dilakukan berdasarkan instruksi otoritas politik Israel.
Lebanon Dibombardir Lebih dari 120 Serangan Udara
Selain operasi darat, Israel juga melancarkan lebih dari 120 serangan udara ke Lebanon pada Selasa (26/5/2026). Sumber keamanan Lebanon menyebut serangan itu sebagai salah satu bombardir terbesar dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan Lebanon melalui kantor berita nasional NNA, salah satu serangan paling mematikan terjadi di kota Burj al-Shamali, Lebanon selatan.
Serangan tersebut menewaskan 14 orang, termasuk dua anak-anak dan tiga perempuan.
Tak hanya menyasar permukiman warga, sejumlah serangan udara Israel juga menghantam area di dekat Kastil Beaufort, benteng berusia hampir 900 tahun yang diakui UNESCO sebagai salah satu kastil abad pertengahan terbaik di kawasan Timur Tengah.
NNA juga melaporkan sedikitnya tiga serangan udara menghantam area sekitar Bendungan Qaraoun, reservoir air terbesar di Lebanon timur.
Gencatan Senjata Terancam Gagal
Gelombang serangan terbaru tersebut dinilai mengancam kesepakatan gencatan senjata yang baru diumumkan pada 16 April lalu.
Situasi regional juga semakin memanas setelah Iran menuding Amerika Serikat melanggar gencatan senjata terpisah dengan menyerang wilayah Iran bagian selatan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pengerahan pasukan dilakukan untuk mengamankan wilayah perbatasan secara penuh.
“Kami memperkuat jalur keamanan untuk melindungi komunitas di utara,” ujar Netanyahu.
Sebelumnya, Netanyahu juga menyatakan Israel akan meningkatkan serangan terhadap Hezbollah.
Baca Juga : Rupiah Tembus 17.800 per Dolar, Purbaya Sebut Tak Masuk Akal
Seorang pejabat AS menyebut kelompok Hizbullah yang didukung Iran telah mengabaikan peringatan untuk menghentikan serangan, sehingga dinilai berisiko mengganggu negosiasi guna mengakhiri konflik AS-Israel dengan Iran.
Hizbullah Klaim Lakukan Serangan Balasan
Menanggapi operasi besar-besaran Israel, Hizbullah menyatakan telah melancarkan serangan balasan pada Selasa.
Kelompok itu mengklaim menyerang pasukan dan tank Israel yang bergerak menuju kota Zawtar al-Sharqiya di Lebanon selatan menggunakan drone peledak, roket, dan artileri.
Namun, Hizbullah tidak merinci jumlah korban maupun kerusakan yang ditimbulkan dalam serangan tersebut.
