China Usir Kapal Perang Belanda di Laut Sengketa
China mengklaim telah mengusir kapal perang Belanda yang memasuki wilayah perairannya di Laut China Selatan. Insiden tersebut menjadi salah satu pertemuan langka antara militer kedua negara dan kembali menyoroti panasnya sengketa kawasan di perairan strategis tersebut.
Militer China menyebut fregat Belanda HNLMS De Ruyter muncul di sekitar Kepulauan Paracel dan beberapa kali menerbangkan helikopter yang dianggap melanggar wilayah udara China.
Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat China mengatakan angkatan laut dan angkatan udara mereka mengambil “langkah-langkah yang diperlukan”, termasuk peringatan suara dan gangguan elektronik untuk mengusir kapal tersebut.
Baca Juga : Ukraina Surati Trump, Minta Tambahan Rudal Patriot untuk Hadapi Rusia
“China dengan tegas menentang” tindakan Belanda, demikian pernyataan militer China pada Rabu.
Pihak China juga memperingatkan bahwa pertemuan semacam itu dapat memicu kesalahpahaman dan salah perhitungan di kawasan yang selama ini dipenuhi ketegangan geopolitik.
Belanda Bantah Langgar Perairan China
Kementerian Pertahanan Belanda membantah tuduhan tersebut. Pemerintah Belanda menegaskan kapal perang mereka tidak memasuki perairan teritorial China dan tetap beroperasi sesuai hukum internasional.
Dalam keterangannya kepada Bloomberg, Kementerian Pertahanan Belanda menyatakan HNLMS De Ruyter melanjutkan rute yang telah direncanakan sebelumnya.
“Fregat tersebut beroperasi sesuai dengan hukum internasional,” kata kementerian itu melalui surat elektronik.
Belanda juga menolak memberikan rincian lebih lanjut terkait operasi kapal perang tersebut dengan alasan keamanan dan operasional militer.
Misi Kebebasan Navigasi di Indo-Pasifik
HNLMS De Ruyter diketahui sedang menjalani misi lima bulan di kawasan Indo-Pasifik. Operasi tersebut bertujuan mendukung kebebasan navigasi dan keamanan maritim di kawasan.
Sebelum insiden dengan China terjadi, kapal perang Belanda itu baru saja melakukan kunjungan persahabatan ke Manila dan mengikuti latihan militer bersama pasukan Filipina.
Ketegangan di Laut China Selatan memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. China mengklaim hampir seluruh wilayah perairan tersebut sebagai bagian dari teritorinya, termasuk area yang juga diklaim Filipina, Vietnam, Malaysia, dan beberapa negara lain.
Kehadiran kapal perang asing di kawasan sering memicu reaksi keras dari Beijing, terutama ketika operasi dilakukan dekat wilayah sengketa.
Pertemuan Sebelumnya Disebut Profesional
Komandan HNLMS De Ruyter, Rodger de Wit, sebelumnya sempat mengungkap adanya pertemuan dengan helikopter Tentara Pembebasan Rakyat China di lepas pantai Filipina.
Menurut laporan Manila Bulletin, de Wit menyebut interaksi tersebut berlangsung secara profesional dari kedua pihak.
Meski begitu, insiden terbaru menunjukkan hubungan militer di kawasan tetap sensitif dan berpotensi memicu ketegangan lebih besar.
Hubungan China-Belanda Juga Memanas soal Industri Chip
Selain isu Laut China Selatan, hubungan China dan Belanda juga mengalami ketegangan di sektor teknologi.
Baca Juga : Trump Gelar Rapat Kabinet, Bahas Iran dan Selat Hormuz
Pemerintah Belanda sebelumnya mengambil alih kendali perusahaan Nexperia, pemasok chip penting untuk industri otomotif dan elektronik konsumen.
Langkah itu memicu gugatan dari perusahaan teknologi China Wingtech Technology Co. yang menuntut ganti rugi hingga 8 miliar yuan atau sekitar 1,2 miliar dolar AS.
Meski hubungan kedua negara sedang tegang, laporan South China Morning Post menyebut Menteri Perdagangan Belanda dijadwalkan memimpin delegasi ke Beijing pada awal Juli 2026.
Kunjungan tersebut diperkirakan menjadi upaya memperbaiki hubungan ekonomi dan diplomatik kedua negara di tengah meningkatnya rivalitas global.
