Stok Rudal AS Menipis, Taiwan Kini Jadi Titik Rawan China?
Persediaan rudal pertahanan udara Amerika Serikat (AS) disebut mengalami penurunan signifikan sejak perang dengan Iran pecah pada 28 Februari 2026.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran mengenai kesiapan militer AS apabila harus menghadapi konflik besar lainnya, termasuk kemungkinan eskalasi di kawasan Taiwan.
Laporan terbaru lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies (CSIS), yang dikutip ABC News, Kamis (30/7/2026), menunjukkan persediaan dua rudal pencegat utama AS, yakni Patriot dan THAAD, terkuras akibat operasi militer menghadapi Iran.
Temuan terbaru itu merupakan pembaruan dari analisis sebelumnya yang diterbitkan ketika AS dan Iran memasuki masa gencatan senjata pada 8 April.
Baca Juga : 15 Perusahaan Inggris Dikabarkan Incar Proyek Kereta Api RI
Pada Rabu (29/7/2026) malam, AS kembali melakukan serangan terhadap sejumlah target di Iran setelah Teheran melancarkan serangan terhadap pasukan Amerika yang berada di Yordania.
Stok Patriot Tinggal Sekitar 759 Rudal
CSIS memperkirakan jumlah rudal pencegat Patriot yang dimiliki AS telah menyusut sekitar 65% dibandingkan sebelum perang dengan Iran dimulai.
Dalam laporan sebelumnya, penurunan stok Patriot diperkirakan berada di angka 55%. Namun, setelah memperhitungkan penggunaan rudal dalam berbagai pertempuran setelah gencatan senjata berakhir, penurunannya kembali bertambah sekitar 10%.
Berdasarkan perhitungan terbaru CSIS, AS saat ini diperkirakan hanya memiliki sekitar 759 rudal Patriot dari varian tercanggih.
Seorang pejabat AS kepada ABC News mengatakan angka tersebut secara umum sejalan dengan perkiraan penggunaan rudal Patriot selama konflik berlangsung.
Persoalan lainnya adalah kemampuan industri pertahanan dalam mengisi kembali persediaan. CSIS mencatat kapasitas produksi industri pertahanan AS hanya sekitar 183 rudal Patriot per tahun.
Selain itu, diperlukan waktu sekitar tiga setengah tahun sejak kontrak pengadaan ditandatangani hingga rudal tersebut dapat dikirim kepada militer AS.
Stok THAAD Turun Separuh
Selain Patriot, CSIS juga menyoroti kondisi persediaan rudal pencegat THAAD. Sistem ini dirancang untuk menghadapi ancaman udara pada jarak dan ketinggian tinggi.
Menurut CSIS, jumlah stok THAAD relatif tidak mengalami perubahan sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April.
Namun, selama periode perang antara 28 Februari hingga 8 April, persediaan rudal THAAD diperkirakan telah berkurang sekitar 50%.
Para pakar menilai THAAD menjadi salah satu jenis amunisi pertahanan udara yang sulit segera digantikan karena proses pembuatannya tergolong kompleks.
Dalam melakukan analisis, CSIS memanfaatkan data dari sejumlah negara Teluk untuk memperkirakan jumlah rudal yang telah ditembakkan AS. Lembaga tersebut juga mengestimasi persediaan senjata berdasarkan dokumen anggaran publik milik Kongres dan Pentagon.
Pentagon Minta Tambahan Dana
Penurunan persediaan amunisi membuat Pentagon mengajukan tambahan anggaran sebesar US$67 miliar atau sekitar Rp1.209 triliun kepada Kongres.
Sebagian dana tersebut direncanakan untuk mengatasi kekurangan persenjataan dan memperkuat kembali stok amunisi militer AS.
Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut pemerintahan mereka mewarisi kondisi persediaan amunisi yang tidak mencukupi. Mereka menilai pemerintahan sebelumnya mengirim persenjataan ke Ukraina tanpa melakukan penggantian stok dalam jumlah yang memadai.
Meski demikian, belum ada kepastian apakah keputusan pemerintahan Joe Biden mengirim tiga baterai rudal Patriot dari persediaan AS ke Ukraina benar-benar berdampak terhadap kemampuan operasional sistem Patriot militer Amerika.
Menanggapi laporan mengenai penurunan stok tersebut, juru bicara utama Pentagon Sean Parnell menegaskan kemampuan militer AS tetap terjaga untuk menjalankan instruksi Presiden.
“Kami telah melaksanakan berbagai operasi yang berhasil di berbagai wilayah komando tempur sambil memastikan militer AS tetap memiliki persenjataan yang kuat untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami,” ujar Parnell kepada ABC News.
Kekhawatiran Beralih ke Taiwan
Purnawirawan Kolonel Korps Marinir AS Steve Ganyard menilai berkurangnya stok amunisi merupakan persoalan serius yang tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
Baca Juga : Trump Ancam Iran Kembali, Serangan Rudal di Pangkalan AS Pemicunya
Menurutnya, penggunaan rudal Patriot dan THAAD dalam jumlah besar memberikan tekanan terhadap industri pertahanan AS. Beberapa jenis rudal bahkan membutuhkan waktu antara dua hingga empat tahun untuk diproduksi dan dikirimkan.
Ganyard menilai situasi tersebut berpotensi menjadi perhatian China apabila Beijing mempertimbangkan opsi militer terhadap Taiwan.
“Jika Anda adalah China dan berpikir akan mengambil langkah terhadap Taiwan, mungkin waktunya adalah sekarang, karena AS kehilangan rudal-rudal yang akan digunakan untuk menghadapi China jika terjadi invasi ke Taiwan,” katanya.
Di sisi lain, Komandan Angkatan Udara Pasifik AS Jenderal Kevin Schneider mengatakan militer AS tengah mengevaluasi kemungkinan mengurangi sejumlah latihan militer di kawasan Indo-Pasifik.
Menurut Schneider, para petinggi militer akan menentukan latihan mana yang paling penting untuk mempertahankan kesiapan tempur.
Langkah tersebut dilakukan sembari memberikan prioritas terhadap kebutuhan operasi di wilayah Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mencakup kawasan Timur Tengah.
