Retakan Internal Muncul di Partai Republik, Trump Mulai Ditinggalkan
Dominasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump di tubuh Partai Republik mulai menghadapi tantangan baru. Setelah bertahun-tahun memperoleh dukungan kuat dari rekan-rekannya di Kongres, sejumlah anggota Partai Republik kini mulai menunjukkan sikap yang berbeda terhadap beberapa agenda utama Gedung Putih.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah faksi Republik di Senat maupun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS mengambil langkah yang berseberangan dengan kebijakan Trump. Perbedaan sikap itu terlihat dalam isu perang dengan Iran, pengeluaran anggaran pemerintah, hingga kebijakan pengawasan domestik.
Beberapa legislator Republik diketahui mengkritik kebijakan Trump terkait Iran, menolak alokasi dana sebesar US$1 miliar untuk pembangunan ballroom Gedung Putih, serta menggagalkan sejumlah usulan anggaran lain yang didorong pemerintahan.
Baca Juga : Israel Dicurigai Memata-matai Tim Negosiasi Trump
Selain itu, DPR AS juga meloloskan rancangan undang-undang bantuan untuk Ukraina dan tambahan sanksi terhadap Rusia. Kebijakan tersebut bertolak belakang dengan sikap Trump dan berpotensi menghadapi veto apabila nantinya sampai ke meja presiden.
Retakan Internal Muncul Jelang Pemilu
Meski demikian, banyak pengamat menilai situasi ini belum dapat disebut sebagai pemberontakan terbuka terhadap Trump. Namun, meningkatnya jumlah anggota Partai Republik yang berani mengambil posisi berbeda menunjukkan adanya retakan yang semakin terlihat menjelang pemilu.
Sejumlah politisi yang sebelumnya pernah menjadi target kritik Trump kini mulai lebih terbuka menyampaikan ketidaksetujuan mereka terhadap kebijakan Gedung Putih. Kondisi tersebut dinilai dapat memperlambat atau bahkan menghambat sejumlah agenda besar yang ingin diwujudkan Trump sebelum pemungutan suara berlangsung.
Senator Republik dari Carolina Utara, Thom Tillis, menilai perubahan sikap tersebut berkaitan dengan dinamika politik menjelang pemilu.
“Saya pikir yang Anda lihat ketika semakin mendekati pemilu adalah orang-orang akan memilih sesuai dengan apa yang menurut mereka diinginkan oleh para pemilih di daerah mereka,” kata Tillis.
Tillis sendiri sebelumnya memutuskan untuk tidak kembali mencalonkan diri setelah menentang rancangan undang-undang andalan Trump yang dikenal sebagai “Satu RUU Besar yang Indah”.
Demokrat Nilai Trump Masih Menguasai Partai
Di sisi lain, sejumlah politikus dari Partai Demokrat menilai perbedaan pendapat yang muncul belum cukup untuk menunjukkan bahwa Partai Republik siap melepaskan diri dari pengaruh Trump.
Senator Demokrat John Fetterman justru melihat kondisi tersebut sebagai bukti bahwa Trump masih memiliki kendali yang kuat terhadap partainya.
“Orang-orang yang berseberangan dengannya adalah mereka yang sudah disingkirkan oleh Trump. Itu justru menunjukkan kendali mutlaknya atas partai,” ujar Fetterman.
Gedung Putih juga berusaha meredam spekulasi mengenai adanya perpecahan internal. Juru bicara Gedung Putih, Abigail Jackson, menegaskan hubungan antara pemerintahan Trump dan Partai Republik tetap solid.
“Sementara media dan Demokrat berusaha menebar kesan adanya perpecahan yang sebenarnya tidak ada, kami menantikan untuk terus melanjutkan hubungan erat ini guna mewujudkan agenda Presiden Trump,” katanya.
Frustrasi di Kongres Kian Meningkat
Meski selama ini Partai Republik dikenal sangat loyal kepada Trump, sejumlah legislator dan staf Kongres mengakui adanya peningkatan rasa frustrasi dalam beberapa bulan terakhir.
Salah satu pemicunya adalah keputusan Trump yang menentang upaya pencalonan kembali Senator Republik Bill Cassidy dan John Cornyn. Selain itu, sejumlah kebijakan dan pengumuman Gedung Putih dinilai dilakukan pada waktu yang kurang tepat sehingga mempersulit agenda legislatif partai.
Baca Juga : Trump Ejek Obama dengan Gambar AI, Singgung Proyek 15 Triliun
Ketegangan juga muncul setelah Trump menunjuk Bill Pulte sebagai Direktur Intelijen Nasional sementara untuk menggantikan Tulsi Gabbard.
Penunjukan tersebut mendapat kritik dari mantan pemimpin mayoritas Senat, Mitch McConnell. Ia menyatakan tidak akan mendukung Pulte jika diajukan sebagai Direktur Intelijen Nasional permanen.
“Tidak ada calon yang tidak memenuhi persyaratan ini yang akan mendapatkan suara saya,” tegas McConnell.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun pengaruh Trump masih sangat besar di Partai Republik, sejumlah perbedaan pandangan mulai muncul dan berpotensi memengaruhi dinamika politik Amerika Serikat menjelang pemilu mendatang.
