Iran Sebut Perdamaian Lebanon Jadi Poin Utama Kesepakatan dengan AS
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa penghentian konflik di Lebanon menjadi aspek paling penting dalam kesepakatan damai yang dicapai antara Iran dan Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut diumumkan pada Senin (15/6/2026) dan menandai berakhirnya perang yang berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Dalam pengarahan kepada para diplomat asing yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Araghchi menjelaskan bahwa memorandum kesepakatan tersebut melibatkan dua kubu utama. Menurutnya, satu pihak terdiri dari Amerika Serikat dan Israel, sementara pihak lainnya adalah Iran bersama Hizbullah.
Baca Juga : IMF Sebut Perdamaian Iran-AS Belum Akhiri Dampak Ekonomi Global
Ia menekankan bahwa penghentian segera dan permanen seluruh konflik di berbagai front, termasuk Lebanon, menjadi inti dari kesepakatan yang telah dicapai.
Israel Ogah Tarik Pasukan dari Lebanon
Meski kesepakatan damai telah diumumkan, Israel sebelumnya menegaskan tidak merasa terikat dengan gencatan senjata yang disepakati antara Amerika Serikat dan Iran.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan negaranya tidak memiliki rencana untuk menarik pasukan dari wilayah Lebanon. Padahal, penarikan pasukan Israel menjadi salah satu tuntutan utama Iran selama proses negosiasi berlangsung.
Netanyahu menegaskan perjuangan Israel belum berakhir dan pasukan akan tetap berada di zona keamanan selama dianggap diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional negara tersebut.
Selama pembicaraan dengan Washington, Iran terus mendorong agar Israel menarik pasukannya dari Lebanon, meskipun Tel Aviv tidak menjadi bagian langsung dalam perundingan damai tersebut.
Di sisi lain, Israel dan Lebanon diketahui tengah melakukan pembahasan terpisah di Washington terkait kemungkinan tercapainya perjanjian damai. Namun, keberhasilan upaya tersebut dinilai sangat bergantung pada sikap Hizbullah.
Kelompok Hizbullah sendiri menolak pembicaraan langsung itu karena tidak dilibatkan dalam proses negosiasi.
Tekanan Dalam Negeri
Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran juga memunculkan reaksi beragam di dalam negeri Israel.
Sejumlah warga dari berbagai kalangan politik menyampaikan kekecewaan terhadap langkah yang diambil pemerintah. Netanyahu mendapat tekanan dari para pengkritik yang menilai dirinya terlalu mengikuti keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan mengesampingkan kepentingan keamanan Israel.
Meski demikian, Netanyahu berusaha menunjukkan bahwa hubungannya dengan Trump tetap berada dalam posisi sejajar sebagai mitra strategis.
Menurutnya, hubungan kedua pemimpin berjalan layaknya kemitraan yang terkadang memiliki kesamaan pandangan, namun tidak jarang pula berbeda pendapat dalam sejumlah isu.
Terlepas dari sikapnya yang menjaga jarak terhadap kesepakatan damai AS-Iran, Netanyahu tetap menggambarkan perang melawan Iran sebagai sebuah kemenangan bagi Israel.
Baca Juga : Rosan Prediksi IHSG Masih akan Diwarnai Koreksi Jangka Pendek
Ia menilai tindakan militer yang dilakukan Israel bersama Amerika Serikat berhasil mencegah Iran memperoleh senjata nuklir yang berpotensi mengancam keselamatan warga Israel dalam skala besar.

[…] Iran Sebut Perdamaian Lebanon Jadi Poin Utama Kesepakatan dengan AS […]