Media Iran Sebut AS Akan Lepas Aset Teheran Senilai Rp 213 Triliun
Media Iran mengklaim Amerika Serikat (AS) berkomitmen mencairkan sebagian aset Iran yang selama ini dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan damai antara kedua negara.
Klaim tersebut muncul setelah beredarnya dokumen nota kesepahaman yang disebut memuat 14 poin utama dalam perundingan antara Washington dan Teheran.
Berdasarkan dokumen yang dipublikasikan kantor berita Mehr, nilai aset Iran yang akan dilepaskan secara bertahap mencapai 24 miliar dollar AS atau sekitar Rp 426,7 triliun.
Dari jumlah tersebut, sekitar 12 miliar dollar AS atau setara Rp 213 triliun disebut akan tersedia bagi Iran pada tahap awal proses negosiasi.
“Setengah dari total nominal dana tersebut wajib disediakan dan dapat diakses oleh pihak Iran sebelum dimulainya agenda negosiasi,” bunyi petikan teks dokumen bocoran tersebut.
Pencairan aset tersebut disebut akan dilakukan selama masa negosiasi 60 hari sejak nota kesepahaman disepakati.
Namun hingga kini, rincian klausul keuangan dalam dokumen yang beredar itu belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pemerintah AS maupun Iran.
Baca Juga: Benteng Angkatan Laut Kuno Iran Dekat Selat Hormuz DItemukan
Muncul Setelah Pengumuman Kesepakatan Damai
Informasi mengenai kemungkinan pencairan aset Iran muncul tak lama setelah AS dan Iran mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik bersenjata secara permanen.
Kesepakatan tersebut mencakup penghentian operasi militer di seluruh medan konflik, termasuk wilayah Lebanon yang selama ini menjadi salah satu titik ketegangan.
Pengumuman pertama kali disampaikan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, melalui akun media sosial X miliknya.
Sharif juga menyebut penandatanganan resmi draf perdamaian dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6/2026).
Presiden AS, Donald Trump, kemudian menegaskan kesepakatan tersebut melalui pidato resminya pada Minggu (14/6/2026).
“Perjanjian dengan Republik Islam Iran kini telah resmi rampung,” tegas Trump.
“Dengan ini saya memberikan otoritas penuh untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz tanpa pungutan biaya tol. Bersamaan dengan itu, saya juga mengizinkan pencabutan segera atas blokade maritim yang digelar Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal-kapal dagang di seluruh dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak kembali mengalir!” lanjutnya.
Pernyataan serupa juga disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi.
“Deklarasi penghentian perang secara permanen dan berlaku seketika telah resmi diumumkan di seluruh front, tidak terkecuali di Lebanon,” ungkap Gharibabadi.
Baca Juga: Usai Iran-AS Sepakat Damai, Harga Minyak Dunia Ambruk
Sempat Diwarnai Ketegangan dengan Israel
Meski kesepakatan damai telah diumumkan, proses menuju perdamaian sempat diwarnai ketegangan baru yang melibatkan Israel.
Beberapa jam sebelum pengumuman resmi, Teheran menyatakan akan membalas serangan Israel di Lebanon.
Trump bahkan mengaku marah kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, karena serangan udara di Beirut dinilai berpotensi mengganggu proses perdamaian.
“Saya sangat marah. Saya sudah memberitahunya,” ujarnya.
Serangan Israel di pinggiran Beirut disebut menjadi salah satu guncangan terbesar terhadap gencatan senjata yang sebagian besar bertahan sejak April.
Iran kemudian meluncurkan serangan rudal balasan yang dibalas kembali oleh Israel.
Teheran sejak awal menegaskan bahwa setiap kesepakatan penghentian perang harus mencakup konflik yang berlangsung di Lebanon.
Perang antara kedua kubu bermula pada akhir Februari 2026 setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Konflik kemudian meluas setelah Iran melancarkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah sekutu AS di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan juga sempat mengancam jalur perdagangan energi dunia karena Iran hampir menutup sepenuhnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas alam global.
