Iran Tegaskan Tak Akan Beri Konsesi Nuklir kepada AS
Iran menegaskan tidak akan memberikan konsesi terkait program nuklirnya meskipun Amerika Serikat (AS) menyetujui proposal pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan seorang pejabat senior Iran kepada Reuters, dikutip Minggu (27/9/2026).
Pejabat tersebut mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai seluruh tuntutan Iran dipenuhi oleh pemerintah AS.
“Seluruh persyaratan Iran dipenuhi,” demikian pernyataan pejabat tersebut terkait syarat pembukaan kembali Selat Hormuz.
Ketegangan antara Teheran dan Washington terjadi di tengah upaya kedua negara mencapai kesepakatan damai setelah konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan.
Baca Juga: Gebrak Meja, Macron Tolak Klaim Trump soal Gaza di Sidang PBB
Iran Ajukan Syarat Pembukaan Selat Hormuz
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi sebelumnya mengajukan proposal yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan sejumlah persyaratan.
Iran meminta seluruh permusuhan dihentikan dalam waktu tujuh hari, AS mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran, mencairkan dana talangan yang dibekukan, serta menghapus sanksi terhadap minyak Iran.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik penting dalam perundingan karena jalur tersebut merupakan rute strategis bagi perdagangan energi global.
Iran mendorong pencabutan blokade yang berdampak terhadap perekonomiannya, sementara AS menuntut kebebasan navigasi untuk menjaga kelancaran pasokan energi.
Di tengah perundingan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan optimistis kesepakatan damai dengan Washington dapat tercapai sebelum pemilihan paruh waktu atau midterm elections AS pada 3 November 2026.
Namun, Iran tetap menegaskan bahwa pembahasan mendalam mengenai program nuklir baru akan dilakukan setelah seluruh tuntutan Teheran dipenuhi.
Pejabat senior Iran yang dikutip Reuters juga mengatakan negaranya tidak akan memberikan konsesi terkait hak nuklirnya, termasuk hak memperkaya uranium.
Baca Juga: Mamdani Kecam Pidato Netanyahu di PBB, Singgung ICC
Iran juga menolak tuntutan untuk mengirim cadangan uranium yang diperkaya tinggi atau Highly Enriched Uranium (HEU) ke luar negeri.
AS, Israel, dan sejumlah negara Barat selama ini menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan tersebut dikaitkan dengan aktivitas pengayaan uranium Iran yang pernah mencapai 60 persen.
Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mencatat Iran memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen sebelum fasilitas nuklir negara tersebut diserang Israel dan AS pada Juni 2025.
Iran sebelumnya sempat membahas kemungkinan mengencerkan sebagian cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tertinggi tersebut.
Namun, dua sumber senior Iran mengatakan pada Mei lalu bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah menginstruksikan agar HEU milik negara tidak dikirim ke luar negeri.
