Gibran Ajak Mahasiswa Tinjau Program MBG di NTT
Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming, merespons berbagai kritik yang ditujukan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mengajak lima mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk melihat langsung pelaksanaannya di lapangan.
Kelima mahasiswa tersebut berasal dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Sanata Dharma, Universitas Pelita Harapan (UPH), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), dan Institut Seni Budaya Indonesia.
Kunjungan kerja tersebut mencakup sejumlah wilayah di Indonesia Timur, mulai dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Gorontalo, hingga Papua.
Baca Juga : Pemerintah Klaim MBG Tingkatkan Gizi Anak hingga Sepak Bola
“Hari ini kami ditemani beberapa perwakilan mahasiswa, kita akan berangkat ke Ende, Gorontalo, dan juga Papua,” kata Gibran di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Respons Terhadap Kritik Program MBG
Gibran menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa yang menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap program pemerintah secara damai.
Salah satu isu yang sempat disuarakan oleh sejumlah mahasiswa adalah desakan agar program MBG dihentikan.
Menanggapi hal tersebut, Gibran menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjalankan program MBG sambil terus melakukan perbaikan tata kelola.
“Kita pastikan setiap rupiahnya benar-benar termanfaatkan dengan baik, dan juga yang paling penting terbebas dari praktik korupsi. Saya kira langkah-langkah ini penting untuk tetap menjaga kepercayaan publik,” ujarnya.
Tinjau Sekolah dan Pelaksanaan MBG di Ende
Setibanya di NTT, Gibran bersama para mahasiswa langsung mengunjungi SMPN 1 Ndona, Kabupaten Ende.
Dalam kunjungan tersebut, Gibran berkeliling ruang kelas dan melihat langsung para siswa yang sedang menikmati makanan dari program MBG.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Niowula untuk mengunjungi SDN Wolomoni dan berdialog dengan guru serta orang tua murid.
Dalam forum tersebut, Gibran menjelaskan alasan mengajak mahasiswa ikut dalam kunjungan kerja tersebut.
“Bapak Ibu, ini saya ajak perwakilan dari mahasiswa. Kemarin banyak yang demo protes agar MBG ini disetop, makanya hari ini mereka saya ajak ke area yang jauh dari Jakarta,” kata Gibran.
Tegaskan MBG Penting untuk Daerah 3T
Saat berdiskusi dengan warga dan tenaga pendidik, Gibran meminta pandangan secara terbuka mengenai program MBG, termasuk bagi yang tidak setuju dengan pelaksanaannya.
Menurutnya, pemerintah perlu menerima berbagai masukan untuk menyempurnakan program tersebut.
Meski mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan, Gibran menegaskan MBG merupakan program yang sangat penting, terutama bagi masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Saya pribadi ini harus dilanjutkan terutama di daerah 3T,” tegasnya.
Dorong Evaluasi Menyeluruh dan Pelibatan Masyarakat
Gibran menilai masa libur sekolah saat ini menjadi momentum yang tepat bagi Badan Gizi Nasional (BGN) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola program MBG.
“Kita ini sekarang ada jeda waktu libur sekolah. Saya kira itu waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh, terutama terkait tata kelola di BGN ini,” ujarnya.
Selain evaluasi, Gibran juga mendukung pelibatan lebih banyak pihak dalam pelaksanaan program MBG.
Menurutnya, tidak hanya kantin sekolah yang dapat terlibat, tetapi juga pesantren, gereja, masjid, SMK Tata Boga, ibu-ibu PKK, hingga orang tua murid.
Ia menilai keterlibatan orang tua penting karena mereka memahami kebutuhan dan kebiasaan makan anak-anak secara langsung.
Mahasiswa Ingin Melihat Dampak Program di Lapangan
Salah satu peserta kunjungan, Daffa Ulhaq dari Universitas Indonesia, mengaku ingin melihat secara langsung implementasi program pemerintah di daerah.
Baca Juga : Purbaya Sebut Menkeu China Sempat Khawatir dengan Kondisi Fiskal RI
“Sebenarnya pingin tahu lebih lanjut gitu, sebenarnya implementasi program maupun kebijakan yang sudah berjalan tuh seperti apa sih di lapangan,” ujar Daffa.
Sementara itu, Keletus Sakaro dari Universitas Sanata Dharma berharap kunjungan tersebut dapat memberikan dampak positif bagi pembangunan Papua, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, seni, dan kebudayaan.
Mahasiswa kedokteran UPH, Nolan Christopher Adam, juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melihat langsung kondisi layanan kesehatan dan dampak program MBG terhadap upaya penanganan stunting di wilayah Indonesia Timur.
Menurutnya, pengalaman tersebut dapat memberikan gambaran nyata mengenai pelaksanaan program pemerintah sekaligus tantangan yang dihadapi masyarakat di daerah.
