Trump Sebut Dana Iran Hanya untuk Beli Pangan AS, Teheran Membantah
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan Iran hanya akan dapat menggunakan dana yang dicairkan dari rekening-rekening yang sebelumnya dibekukan untuk membeli bahan pangan dan perlengkapan medis dari AS. Pernyataan itu disampaikan untuk meredakan kekhawatiran terkait perundingan damai yang, menurut kedua pihak, terus menunjukkan kemajuan.
Namun, pernyataan Trump tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran. Ketidaksesuaian ini menjadi insiden terbaru di mana kedua belah pihak saling melontarkan klaim yang bertolak belakang mengenai poin-poin krusial dalam perundingan mereka, terutama terkait status inspeksi nuklir yang kini menjadi perdebatan sengit kedua kubu.
Saling lempar argumen mengenai apa yang sebenarnya disepakati pekan lalu ini bergulir bersamaan dengan meningkatnya kritik domestik di AS terhadap cara pemerintah menangani konflik tersebut.
Pada Selasa (23/6/2026), Senat AS yang dipimpin Partai Republik melakukan pemungutan suara untuk menghentikan perang AS dengan Iran. Langkah simbolis yang jarang terjadi itu dipandang sebagai teguran langsung terhadap Trump.
Meski resolusi tersebut tampaknya tidak akan memaksa perubahan strategi pemerintahan Trump, hasil pemungutan suara itu menjadi sinyal bahwa presiden AS menghadapi keterbatasan dukungan politik domestik atas kebijakan yang diambilnya.
Baca Juga : Prabowo Klaim Harga BBM Tak Naik Karena Keputusannya
Di tengah dinamika politik Washington, Iran dan Oman juga mengumumkan rencana penyusunan kesepakatan terkait tata kelola masa depan Selat Hormuz. Kesepakatan itu mencakup pengaturan biaya manajemen transit kapal di salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Sementara itu, harga minyak kembali melemah pada Selasa. Minyak Brent turun ke level US$76,88 per barel, jauh di bawah puncaknya yang sempat mencapai sekitar US$125 per barel pada akhir April. Harga tersebut kini mendekati posisi sebelum perang pecah.
Trump Klaim Dana Iran Diawasi AS
Trump menyatakan miliaran dolar dana yang dibuka kembali akan ditempatkan dalam rekening penampungan yang dikendalikan oleh AS.
Menurutnya, dana tersebut hanya dapat digunakan untuk membeli produk pertanian asal AS seperti jagung, gandum, dan kedelai.
Trump juga mengklaim Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tingkat tertinggi dalam jangka panjang sebagai bagian dari perundingan paralel mengenai program nuklir Teheran. Isu ini menjadi salah satu komponen utama dalam upaya mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat bulan sekaligus menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.
Iran Bantah Dana dan Inspeksi Nuklir
Tak lama setelah pernyataan Trump, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah kedua klaim tersebut.
Menurut Baghaei, dana yang dicairkan akan digunakan Iran secara bebas tanpa pembatasan untuk membeli produk dari AS.
Ia juga menolak pernyataan Trump terkait inspeksi nuklir.
“Kami tidak pernah bertemu dengan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan tidak memiliki rencana bagi badan tersebut untuk melakukan inspeksi terhadap fasilitas nuklir Iran,” katanya.
Trump kembali menegaskan bahwa Iran memang telah menyetujui inspeksi tersebut. Menurutnya, pihak Iran hanya menyampaikan narasi berbeda untuk konsumsi publik domestik.
“Mereka salah,” kata Trump kepada wartawan ketika ditanya mengenai komentar Baghaei.
“Mereka tahu mereka salah. Mereka mengatakan itu kepada kami secara langsung dan kami memiliki catatannya, inspeksi 100 persen. Jika mereka benar, saya akan membatalkan pertemuan ini sekarang juga.”
Trump Hadapi Tekanan Politik Dalam Negeri
Pernyataan Trump mencerminkan upaya pemerintahannya mempertahankan dukungan terhadap kesepakatan yang sedang dirundingkan di tengah kritik yang terus bermunculan, termasuk dari kelompok pendukung kebijakan pertahanan garis keras di Partai Republik.
Penegasan bahwa dana Iran akan digunakan untuk membeli produk pertanian AS juga dipandang sebagai strategi politik untuk menarik dukungan petani Amerika.
Kelompok petani merupakan salah satu basis pemilih utama Partai Republik dan akan menjadi faktor penting menjelang pemilu sela pada November mendatang, khususnya di wilayah Midwest dan Selatan AS.
Sejumlah pengkritik nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pekan lalu khawatir Iran akan memanfaatkan dana tersebut untuk membangun kembali kemampuan militernya dan terus mendukung kelompok-kelompok sekutu seperti Hizbullah.
Iran Sebut Dana yang Dicairkan Capai US$12 Miliar
Iran menyatakan dana beku senilai US$12 miliar akan dicairkan dalam dua tahap yang sama besar sebagai bagian dari proses perundingan.
Informasi tersebut disampaikan kantor berita Mehr yang mengutip Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi.
Hingga kini, pemerintah AS belum memberikan konfirmasi mengenai jumlah dana yang akan diterima Iran.
Meski masih terjadi perbedaan klaim, Trump mengatakan proses negosiasi “berjalan dengan baik”, sejalan dengan pernyataan optimistis dari berbagai pihak yang terlibat dalam pembicaraan tersebut.
Masih Banyak Isu yang Belum Terselesaikan
Perundingan damai masih menghadapi sejumlah hambatan sebelum mencapai kesepakatan final.
Baca Juga : Hubungan AS-Israel Memanas, Netanyahu Bantah Klaim
Salah satu isu utama adalah konflik antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Teheran menilai keberadaan militer Israel di wilayah selatan Lebanon merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah ada dan berpotensi mengganggu proses negosiasi.
Pejabat Iran juga menuduh AS turut bertanggung jawab atas pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel.
Di sisi lain, putaran kelima perundingan yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon berlangsung di Washington pada Selasa (23/6/2026), menurut keterangan Kedutaan Besar Israel.
Perkembangan perundingan tersebut dipandang sebagai faktor penting yang akan menentukan arah hubungan AS, Iran, dan sekutu-sekutunya di kawasan Timur Tengah dalam beberapa bulan ke depan.
