Trump Janjikan Ekonomi AS Melonjak usai Kesepakatan Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai mengalihkan fokus politiknya ke isu ekonomi domestik setelah tercapainya kesepakatan sementara dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir empat bulan.
Dalam kunjungannya ke Macungie, Pennsylvania, Selasa (23/6/2026), Trump mempromosikan agenda perdagangan proteksionisnya sekaligus meyakinkan pemilih bahwa kondisi ekonomi Amerika Serikat akan segera membaik.
Kunjungan tersebut menjadi agenda kampanye pertamanya sejak penandatanganan nota kesepahaman antara Washington dan Teheran yang membuka jalan menuju negosiasi damai permanen.
Trump mengklaim perang telah berhasil melumpuhkan kemampuan militer Iran dan menutup peluang negara tersebut untuk mengembangkan senjata nuklir.
Di hadapan pekerja pabrik manufaktur Mack Trucks, Trump juga menjanjikan penurunan harga energi yang menurutnya akan berdampak pada berbagai sektor ekonomi.
“Kami sedang berusaha merumuskan kesepakatan yang adil,” ujar Trump.
“Harga minyak akan segera turun drastis, dan bersamanya, harga kebutuhan lain pun akan ikut turun.”
Baca Juga: Pakistan Dikunjungi Presiden Iran, Ada Agenda Besar?
Trump Klaim Ekonomi AS Siap Melonjak
Trump mengatakan berakhirnya konflik dengan Iran akan menjadi momentum kebangkitan ekonomi Amerika Serikat.
Ia menyebut perekonomian negara itu kini berada dalam posisi yang kuat untuk tumbuh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Menurut dia, kebijakan tarif yang diterapkan terhadap sektor logam, kendaraan impor, dan truk berukuran sedang hingga berat telah membantu mengurangi defisit perdagangan dengan China.
Selain itu, ia juga menyinggung kebijakan penurunan harga obat resep serta pemotongan pajak yang diklaim memberi manfaat bagi masyarakat.
“Selama puluhan tahun, para pekerja di negara bagian ini menyaksikan para politisi globalis membiarkan negara lain memanfaatkan Anda, menutup pabrik-pabrik Anda, merampas pekerjaan Anda, dan memindahkannya ke luar negeri,” kata Trump.
“Kemudian saya datang, dan kami menghentikannya dengan sangat cepat.”
Dalam pidatonya, Trump turut menyinggung sejumlah isu lain, mulai dari partisipasi transgender dalam olahraga perempuan, kebijakan imigrasi, hingga aturan identifikasi pemilih.
Ia juga kembali mengulang klaim bahwa dirinya memenangkan pemilu 2020 dan memberi sinyal kemungkinan mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga.
“Mungkin kita harus maju lagi,” ujar dia.
Baca Juga: Trump Dibantah Netanyahu, AS-Israel Memanas?
Partai Republik Hadapi Tantangan Jelang Pemilu
Di tengah optimisme yang disampaikan Trump, Partai Republik menghadapi tantangan menjelang pemilu sela yang akan digelar pada November mendatang.
Sejumlah survei menunjukkan masih banyak pemilih yang tidak puas terhadap penanganan ekonomi oleh pemerintahan Trump, terutama terkait tingginya biaya perumahan, layanan kesehatan, utilitas, dan bahan makanan.
Tekanan terhadap ekonomi juga diperparah oleh dampak perang yang sempat memicu lonjakan harga minyak dan gas serta gejolak pasar keuangan.
Bahkan, kebijakan tarif yang menjadi andalan Trump turut memengaruhi perusahaan yang dikunjunginya.
Perusahaan induk Mack Trucks, Volvo Group, sebelumnya mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja terhadap ratusan karyawan di beberapa fasilitasnya, termasuk pabrik di Macungie, dengan alasan ketidakpastian yang dipicu kebijakan tarif.
Dalam kesempatan tersebut, Trump juga berupaya memperkuat dukungan bagi anggota DPR dari Partai Republik, Ryan Mackenzie, yang memenangkan kursinya pada pemilu 2024 dengan selisih tipis.
“Kita harus memastikan Anda memilih anggota kongres kita di sini. Saya tidak melakukan ini demi kesehatan saya,” kata Trump.
Persaingan di distrik kongres ke-7 Pennsylvania menjadi salah satu pertarungan penting bagi Partai Republik yang saat ini hanya memiliki mayoritas tipis di DPR AS.
Sementara itu, jajak pendapat Associated Press-NORC yang dirilis awal bulan menunjukkan hanya sekitar sepertiga warga dewasa Amerika Serikat yang menyetujui cara Trump menangani perekonomian negara tersebut.
