Trump Selidiki Perusahaan Minyak karena Harga BBM Tak Kunjung Turun
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan penyelidikan terhadap sejumlah perusahaan minyak besar setelah harga bahan bakar minyak (BBM) di negaranya dinilai belum turun sebanding dengan merosotnya harga minyak mentah dunia.
Melalui unggahan di Truth Social pada Rabu (24/6/2026), Trump menuding perusahaan-perusahaan energi tidak segera menyesuaikan harga di tingkat konsumen meski biaya minyak yang mereka beli telah turun tajam.
“Perusahaan-perusahaan minyak besar tidak menurunkan harga di pompa bensin sebanding dengan penurunan tajam harga minyak yang mereka bayar,” tulis Trump.
Ia menilai masyarakat belum merasakan manfaat dari penurunan harga minyak yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Trump, harga minyak saat ini telah “jatuh seperti batu”, tetapi harga BBM di SPBU masih relatif tinggi sehingga merugikan konsumen.
Baca Juga: Lalu Lintas Kapal di Hormuz Meningkat usai Kesepakatan AS-Iran
Harga Minyak Naik Akibat Konflik Iran
Harga minyak dunia sebelumnya melonjak setelah Iran menghentikan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut langsung memengaruhi pasar minyak global.
Di Amerika Serikat, harga bensin menjadi isu politik yang sensitif karena sebagian besar masyarakat masih mengandalkan kendaraan berbahan bakar fosil untuk aktivitas sehari-hari.
Kenaikan harga BBM akibat konflik di Timur Tengah pun menjadi perhatian publik dan menambah tekanan terhadap pemerintahan Trump.
Trump Hadapi Kritik Jelang Pemilu Kongres
Trump juga menghadapi kritik atas keputusannya melibatkan Amerika Serikat dalam konflik yang memicu gejolak harga energi.
Sejumlah pihak menilai perang tersebut telah membebani masyarakat karena menyebabkan kenaikan biaya bahan bakar menjelang pemilihan Kongres yang akan digelar pada November mendatang.
Sebelumnya, Trump berulang kali menyampaikan bahwa harga BBM akan turun setelah konflik berakhir.
Namun, sejumlah ekonom menilai proses penyesuaian harga energi tidak berlangsung instan dan dapat memerlukan waktu berbulan-bulan hingga kembali ke level sebelum perang.
Baca Juga: Kesepakatan AS-Iran Diklaim Perkuat Hizbullah di Lebanon
Harga Bensin Masih di Atas Level Sebelum Perang
Amerika Serikat dan Iran kini telah mencapai kesepakatan awal yang memungkinkan kembali beroperasinya jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Meski demikian, sejumlah isu penting, termasuk program nuklir Iran, masih menjadi bahan perundingan kedua negara.
Setelah kesepakatan diumumkan, harga bensin di Amerika Serikat memang mulai mengalami penurunan.
Namun, harga tersebut masih lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah.
Berdasarkan data AAA, harga rata-rata bensin reguler di Amerika Serikat pada Selasa tercatat sebesar 3,93 dollar AS atau sekitar Rp 70.551 per galon.
Trump juga menghadapi kritik dari sebagian warga yang menilai pemerintah telah menghabiskan miliaran dollar dana publik untuk perang di Timur Tengah, sementara inflasi dan harga energi di dalam negeri masih menjadi persoalan yang dirasakan masyarakat.
