Korban Gempa Venezuela Tembus 1.400, Ribuan Masih Hilang
Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi ganda yang mengguncang Venezuela terus bertambah. Hingga Sabtu (27/6/2026), korban tewas tercatat telah melampaui 1.400 orang, sementara operasi pencarian korban selamat masih berlangsung di sejumlah wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.
Di saat yang sama, tim penyelamat dari berbagai negara mulai berdatangan untuk memperkuat proses evakuasi dan pencarian korban di kawasan pesisir yang terdampak bencana.
Data terbaru tersebut diumumkan ketika personel penyelamat dikerahkan ke sejumlah titik di La Guaira dan sebagian wilayah Caracas. Selama beberapa hari terakhir, keluarga korban bersama para relawan terus berupaya mengevakuasi korban yang masih hidup maupun jenazah dari bawah puing-puing bangunan yang roboh.
Baca Juga : Trump Ungkap Keinginannya Gunakan Dana Iran untuk Pangan dari AS
Namun, mereka mengaku menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan alat berat hingga minimnya jumlah petugas resmi yang berada di lokasi bencana.
Tim Penyelamat Asing Mulai Berdatangan
Dikutip dari CNBC Internasional, pemerintah Venezuela menyatakan lebih dari 1.600 personel penyelamat dari luar negeri telah tiba untuk membantu proses tanggap darurat. Sejumlah tim tambahan juga masih dalam perjalanan menuju negara tersebut.
Kehadiran mereka diharapkan mempercepat pencarian korban setelah dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela pada Rabu lalu. Bencana tersebut juga memicu ratusan gempa susulan.
Di Caraballeda, salah satu kawasan yang mengalami kerusakan paling parah di La Guaira, helikopter milik Amerika Serikat tampak mengangkut personel penyelamat menuju lokasi terdampak. Setelah menurunkan tim, helikopter kembali diterbangkan untuk menjalankan misi berikutnya.
Relawan Terus Mencari Anggota Keluarga
Salah seorang relawan, Alejandro Serrano, datang dari San Cristobal di Venezuela bagian barat untuk mencari adiknya, Ana Serrano, yang tinggal di gedung Bahía Mar di Caraballeda sebelum bangunan tersebut runtuh akibat gempa.
Ia mengaku telah mendatangi Rumah Sakit Perez Carreno di Caracas pada Kamis malam, namun belum menemukan keberadaan sang adik. Serrano juga telah menyerahkan identitas serta alamat Ana kepada tim penyelamat asal Argentina dan El Salvador.
“Saya berharap mereka tidak menemukannya di bawah reruntuhan,” ujarnya, yang berarti ia berharap sang adik masih hidup.
Meski pemerintah menyebut ratusan orang masih terjebak atau dinyatakan hilang, data dari situs pencarian korban yang dipromosikan kelompok oposisi menunjukkan lebih dari 55.000 orang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Sementara itu, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan jumlah korban meninggal akibat gempa tersebut berpotensi melampaui 10.000 jiwa.
Apabila prediksi itu menjadi kenyataan, bencana ini diperkirakan menjadi salah satu gempa paling mematikan yang pernah terjadi di Amerika Latin dalam lebih dari satu abad terakhir.
Selain menimbulkan korban jiwa dan kerusakan besar, bencana tersebut juga diperkirakan membawa konsekuensi politik bagi Presiden Sementara Venezuela, Delcy Rodriguez.
Selama ini Rodriguez berupaya membangun citra sebagai agen perubahan setelah sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden di era Nicolas Maduro, yang digulingkan dan ditangkap oleh Amerika Serikat pada Januari lalu.
Di Roma, Paus Leo turut menyampaikan doa bagi seluruh korban gempa, keluarga yang ditinggalkan, serta para petugas kemanusiaan yang terlibat dalam operasi penyelamatan. Ia berharap dukungan dan solidaritas internasional terhadap Venezuela terus berlanjut.
Pemerintah Amerika Serikat telah mengirimkan bantuan darurat kepada Venezuela setelah bencana tersebut.
Baca Juga : Mojtaba Desak Penangkapan Pimpinan AS-Israel, Ada Apa?
Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengungkapkan bahwa paket bantuan baru senilai ratusan juta dolar AS diperkirakan akan diumumkan dalam satu hingga dua hari ke depan. Bantuan tersebut berada di luar komitmen sebelumnya sebesar 150 juta dolar AS yang telah disetujui pemerintahan Presiden Donald Trump.
Di sisi lain, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters bahwa upaya terbaru pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, untuk meminta dukungan Amerika Serikat agar dapat kembali ke negaranya belum menjadi prioritas.
Menurut pejabat tersebut, fokus pemerintah AS saat ini masih tertuju pada penanganan bencana kemanusiaan yang tengah berlangsung di Venezuela.
