AS Gempur Iran, Perundingan Damai Langsung Mandek
Proses perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan terhenti sementara, setelah militer AS melancarkan serangan udara terhadap sejumlah sasaran militer Iran. Operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan yang kembali dilancarkan Teheran terhadap kapal-kapal komersial di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Mengutip CNBC, Senin (29/6/2026), Komando Sentral Amerika Serikat (CentCom) menyerang 10 target militer di sekitar Selat Hormuz pada Minggu. Sasaran operasi meliputi fasilitas pengawasan, sistem komunikasi militer, instalasi pertahanan udara, gudang penyimpanan drone, hingga kemampuan kapal penebar ranjau milik Iran.
Serangan tersebut dilakukan setelah kapal tanker berbendera Panama, M/T Kiku, diserang drone Iran saat membawa lebih dari dua juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz pada Sabtu.
Baca Juga : Jepang Bantah Tuduhan Ganggu Latihan Kapal Induk China
Selain itu, CentCom juga melaporkan kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, sempat menjadi sasaran tembakan Iran di lepas pantai Oman pada Kamis. Meski demikian, kapal tersebut tetap dapat melanjutkan pelayarannya.
Iran Balas Serang Pangkalan Militer AS
Tak lama setelah serangan udara AS, Iran meluncurkan rudal balistik dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika di Kuwait dan Bahrain pada Minggu malam.
Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya dikerahkan untuk mencegat rudal yang masuk. Sementara itu, pemerintah Bahrain mengecam keras aksi yang dinilai mengancam stabilitas kawasan.
“Apa yang dilakukan Teheran bukanlah tindakan sekilas, bukan pula insiden terisolasi, melainkan pendekatan yang disengaja dan pola agresi berulang yang sistematis,” kecam otoritas Bahrain dalam rilis resminya.
Serangan balasan Iran juga memicu reaksi dari sejumlah negara Teluk. Uni Emirat Arab dan Qatar mengutuk tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara serta hukum internasional.
Arab Saudi turut menyampaikan kecaman dan menilai serangan Iran membahayakan keamanan serta kebebasan navigasi internasional di Selat Hormuz.
Trump Kembali Ancam Iran
Meningkatnya eskalasi konflik membuat Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran.
Melalui akun Truth Social, Trump menyatakan serangan udara terhadap pangkalan rudal Iran dilakukan karena Teheran dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata.
“Mungkin akan tiba suatu titik di mana kita tidak lagi bisa bersikap masuk akal, dan akan terpaksa menyelesaikan pekerjaan secara militer yang telah kita mulai dengan sangat sukses. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!” ancam Trump.
Pernyataan tersebut menambah daftar peringatan keras yang sebelumnya beberapa kali disampaikan Trump kepada Iran, termasuk ancaman akan menghancurkan negara tersebut apabila terus melanggar kesepakatan damai.
Nasib Perundingan di Swiss Masih Belum Pasti
Konflik terbaru ini terjadi hanya sepekan setelah Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MoU) sebagai dasar penyusunan perjanjian damai permanen.
Dalam kerangka gencatan senjata selama 60 hari, kedua negara sebelumnya berkomitmen menahan diri dari aksi militer. Namun, masing-masing kini saling menuduh telah lebih dahulu melanggar kesepakatan.
Seorang sumber diplomatik Pakistan yang ikut terlibat dalam proses mediasi mengungkapkan bahwa pembicaraan memang sedang dibekukan akibat meningkatnya ketegangan.
Meski demikian, seluruh delegasi masih mempertahankan keberadaan perwakilan mereka di Swiss agar proses negosiasi dapat segera dilanjutkan apabila situasi memungkinkan.
Di sisi lain, seorang pejabat senior pemerintahan Trump membantah bahwa proses perundingan telah dibatalkan.
“Tidak ada yang dibatalkan. Pembicaraan teknis mengenai implementasi nota kesepahaman tetap berada di jalur yang benar untuk beberapa hari ke depan sesuai rencana,” tegas pejabat senior AS tersebut.
Harga Minyak Dunia Turun
Laporan Axios menyebut Amerika Serikat dan Iran sebenarnya telah mencapai kesepakatan awal untuk menghentikan aksi saling serang di laut dan berencana menggelar pertemuan langsung pada akhir pekan ini.
Baca Juga : Trump Sebut Turkiye Hampir Terlibat Perang Iran-Israel
Sementara itu, CentCom memastikan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz masih berlangsung normal. Bahkan, semakin banyak kapal berhasil melintasi jalur tersebut sehingga meredakan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Meredanya kekhawatiran pasar ikut mendorong penurunan harga minyak mentah dunia.
Minyak Brent untuk kontrak Agustus ditutup melemah 4,34 persen ke level US$71,99 per barel. Adapun minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Agustus turun 3,74 persen menjadi US$69,23 per barel.
Penutupan tersebut menjadi kali pertama harga WTI berada di bawah US$70 per barel sejak 27 Februari 2026, sehari sebelum konflik Iran kembali pecah.
